Category Archives: Traveling

Menikmati Ikan Kerapu Bakar di Tanjung Balai Karimun, Riau.

Perjalanan kali ini membawa saya ke sebuah pulau yang mungkin masih kurang populer bila dibandingkan dengan pulau lain seperti Batam. ya, pulau ini tergolong kecil dan sedikit kuno. Namun, anda akan teringat selalu dengan keindahan serta panorama kota damai nan indah di pesisir pantai khas melayu.

Tanjung Balai Karimun, berjarak hampir 4 jam melalui laut dari Batam. Kota ini sepintas tampak sepi dan sunyi, ditambah jumlah penduduknya yang relatif sedikit. Kami berangkat dari Batam dengan melalui kapal ferri di pelabuhan Sekupang. Ongkos perjalanan berkisar Rp.65.000,- hingga rp.70.000,- untuk sekali jalan per orangnya.

Kampung Suku Laut

Sepanjang perjalanan menuju pulau ini, saya menjumpai sebuah kampung yang terapung diatas laut, ketika saya menanyakan kepada istri saya yang kebetulan asli orang Riau, ia mengatakan bahwa itu adalah kampung suku laut, yang merupakan suku asli wilayah ini.

Gambaran kampung ini hampir mirip dengan sebuah ilustrasi adegan dalam film ‘Waterworld; yang dibintangi oleh Kevin Costner. Tampak bangunan-bangunan yang terbuat dari bambu dan kayu, serta terlihat jaring-jaring yang ditempel disepanjang jalan setapak yang terbuat dari kayu dan bambu.
Tak terasa hampir 4 jam, akhirnya saya tiba disebuah pelabuhan Tanjung Balai. Mesin Kapal mulai terdengar pelan dan tampak para awak kapal mulai sibuk berlalu-lalang sambil berteriak sesekali. Setelah kapal menempel dengan aman, barulah kami turun dan menginjakkan kaki di Tanjung Balai. Ketika itu matahari hampir terbenam, dan kami segera mencari tempat penginapan terdekat. Melalui informasi yang didapat melalui supir taxi, akhirnya kami menginap disebuah hotel yang terbilang cukup kecil dan modern.

Bangunan hotel terletak ditengah pusat kota Tanjung Balai. Pusat kota disini cukup ramai, dengan hanya terdiri dari satu jalan utama, dan jalan ini hanya bisa dilalui oleh 2 jalur kendaraan, maka dibuatlah satu jalur bagi pengendara yang ingin melalui jalur utama di kota ini.

Kebanyakan dari penduduk disini bermata pencaharian sebagai nelayan dan pedagang. Tidak heran bila di setiap pesisir pantai banyak terdapat perahu-perahu yang diparkirkan serta terlihat dari jalan raya.

Setelah sedikit beristirahat, akhirnya kami menyempatkan diri untuk berkeliling sejenak disekitar kota sambil berjalan kaki pada malam hari. Tidak lupa kami menyantap makan malam disebuah restoran loka bernama “Silver River”.

Lokasi restaurant tidak jauh dari pusat kota, dan berada persis dipinggir pantai. Saking pinggirnya, hingga kami pun bisa makan diatas balkon kayu yang berada dipinggir pantai.

Menu andalan tempat ini adalah ikan kerapu ‘steam’, yang dipadukan dengan bumbu rempah khas Riau. Kami pun menyantap menu andalan beserta Kui Tio khas kanton yang gurih dan pedas. Maklum, di daerah ini juga banyak terdapat para pendatang yang berasal dari Malaysia beretnis Cina, sehingga cita rasa masakan disini masih terpengaruh oleh rasa Cina Melayu asli.

Harga makanan disini cukup terjangkau, terutama masakan yang berbahan dasar laut. Dan semua bahan didapat langsung dari laut dan segar, sehingga rasanya sungguh luar biasa.

Perjalanan selama 2 hari satu malam , walaupun terbilang sangat singkat, singgah di tempat ini sungguh banyak meninggalkan kesan, terlebih dengan suasana serta atmosfirnya yang terkesan alami.

Masih banyak tentunya lokasi tujuan wisata di tempat ini yang perlu saya kunjungi di lain waktu. Tempat yang populer salah satunya adalah Pantai Pongkar, yang terletak di sebelah Utara pulau ini. Namun sayang, waktu yang singkat untuk singgah di tempat ini membuat saya menunda kunjungan ke lokasi ini.

Sungguh sebuah tempat yang perlu anda kunjungi sebagai daftar wisata lokal di tanah air.

“Fast & Furious” Gaya Anak Muda Melbourne.

Ajang berkumpul dan saling bertukar informasi para penggemar otomotif di Melbourne ini biasanya diadakan pada akhir pekan. Para penggemar modifikasi mobil saling unjuk gigi memperlihatkan hasil kreasi mereka. Sungguh, ajang ini sangat menarik untuk disimak, tidak lain karena suasananya yang aman dan terkendali, membuat ajang liar ini menjadi magnet para kawula muda di Melbourne, Australia.

Sungguh beruntung saya bisa melihat langsung dan datang ke kegiatan ini. Selain jarang, ajang ilegal ini tidak sering dilakukan di tempat-tempat umum seperti sekarang.

Sekitar lewat pukul 9 malam, saya kebetulan melewati sebuah distrik di daerah Melbourne. Pandangan saya tertuju pada sebuah antrian mobil yang cukup panjang hendak memasuki sebuah area parkir. Bukan antrian mobilnya yang membuat saya tertarik; melainkan deretan mobil sport yang dilengkapi dengan variasi yang ‘kinclong’ dari mulai velg, audio, hingga suara mesin yang meraung-raung dan ganas terdengar dari area tersebut.

Keheranan saya semakin menjadi ketika terdapat kerumunan orang di area tersebut. Saya pikir, saat itu sedang terjadi sebuah insiden, atau perkelahian. Karena penasaran, saya memberanikan diri untuk menghampiri area tersebut.

Keheranan saya berubah menjadi sebuah kekaguman, tatkala saya melihat deretan mobil yang terjejer rapih dan mobil-mobil tersebut dikeliling oleh para penonton yang menyaksikan.

Ternyata, disitu sedang terjadi sebuah ajang pertemuan para penggemar hobi mobil modifikasi. Kendaraaan tersebut muncul dari berbagai tahun dan pabrikan, hanya bedanya, kendaraan ini telah dimodifikasi sedemikian rupa, hingga mirip dengan kendaraan yang ada di film “Fast & Furious”.

ya, ternyata adegan yang terjadi di film tersebut ada disini. Para anak muda berkumpul di sebuah area parkir yang sudah kosong, saling menunjukkan hasil modifikasi mereka, dan tidak jarang diantara mereka saling beramah tamah dan bertukar informasi.

Sempat saya berbicara dengan salah seorang anggota komunitas, bernama Smith, ia mengatakan bahwa ajang ini jarang terjadi, tetapi biasanya diadakan setiap akhir pekan, sesusai dengan kesepakatan para anggota. Hal ini disebabkan aktifitas para anggota yang terhitung sibuk. Maklum, mereka pada umumnya adalah para warga biasa yang bekerja normal pada hari biasa.

Area parkir yang disulap menjadi display pameran, ditambah suara dentuman musik dari ‘Audio System’ dan Mesin yang meraung-raung, membuat suasana sedikit merinding. Saking menariknya ajang ini dan hanya diadakan sesekali, kerap mengundang para wartawan majalah lokal untuk datang meliput ajang ini.

Para penggemar otomotif saling bertukar informasi satu sama lain.

Uniknya, ajang ini terbilang ilegal alias tidak resmi. Pihak keamanan parkir kerap terlihat kewalahan dan koordinatif dengan pihak panitia. Sesekali mereka melakukan percakapan melalui ‘walkie-talkie’, untuk memonitor jalannya ajang ini di lokasi tersebut.

Unik memang, karena pihak manajemen gedung terlihat koordinatif serta menjaga jalannya ajang ini tetap kondusif dan berjalan normal. Tidak ada minuman keras, atau bahkan rokok terlihat di area ini, karena memang komunitas ini terfokus kepada hobi otomoitf mereka, bukan kepada hal yang lainnya.

Ajang ini pun dimanfaatkan oleh beberapa anggotanya untuk berjualan merchandise, aksesoris mobil hingga berjualan kopi ada disini. Uniknya, dentuman musik hingga raungan mesin yang dahsyat tidak membuat Polisi datang untuk membubarkan ajang ini, meskipun mereka bisa.

Hampir mendekati puncak acara, para peserta komunitas mulai turun keluar area gedung, dan menunjukkan demonstrasi kendaraan mereka sambil berkendara pulang. Banyak atraksi menarik terjadi ketika puncak acara terjadi; mulai dari unjuk Audio, ‘Slalom Test’, hingga ‘drag speed drive’ diantara para anggota komunitas. Para penonton pun kerap bersorak dan bertepuk tangan riua ketika menyaksikan mobil modifikasi ini lewat dan membubarkan diri. Tidak jarang para pejalan kaki lokal terlihat sedikit ketakutan melihat atraksi ini.

Berkumpulnya para komunitas ini tidak terjadi setiap minggu atau bahkan setiap bulan. Semua kegiatan tergantung kesepakatan dan jadwal kosong antar anggota, dan menurut bocoran, hal ini dilakukan ketika patroli Polisi sedang ‘santai’ dan kosong.

Jadi, anda tidak perlu heran bila pada setiap akhir pekan di Melbourne anda melihat mobil dengan dentuman Audio serta suara mesin yang bising, melewati sudut kota sambil beriringan. Itu merupakan sebuah sinyal, bahwa ajang ilegal ini akan diadakan.

Salam Petualang, sobat!

Koleksi Penggemar Mobil & Motor klasik di Adelaide

South Australia, sungguh menyimpan banyak potensi wisata yang tak kalah menariknya dengan kota lain di Australia seperti Melbourne, Perth atau Sydney.

Kali ini kami dibuat kagum ketika mengunjungi salah satu Museum Otomotif terbesar di Australia Selatan. Bahkan boleh dibilang mueum ini termasuk terbesar dan terlengkap di seluruh kawasan Australia.

Museum otomotif ini terletak di kota Birdwood, sebuah kota kecil di bagian timur Adelaide yang berjarak sekitar 60 KM dari pusat kota.

Tempat ini kerap dikunjungi oleh para wisatawan lokal serta para pecinta otomotif sejati tentunya. Dari tempat inilah kita bisa melihat langsung bukti sejarah perkembangan teknologi otomotif dari tahun ke tahun.

Yang paling seru, kota ini selalu menjadi tempat kunjungan wajib dan sakral bagi para klub dan komunitas otomotif di seluruh pelosok Australia. Tidak heran apabila setiap akhir pekan, saya sering melihat parade atau rombongan komunitas otomotif kerap melintasi rumah saya yang kebetulan lokasinya boleh dibilang dekat dengan kota Birdwood.


Sejarah Singkat Museum.

Museum ini awalnya bermula dari sebuah bangunan bekas pabrik tepung ‘Birdwood Mill’ yang berdiri pada tahun 1866. Bangunan ini menjadi kosong setelah pabrik tersebut pindah pada tahun 1964, dan kemudian dibeli oleh dua orang pengusaha Jack Kaines dan Len Vigar. Kebetulan kedua pengusaha tersebut adalah penggemar otomotif, sehingga diputuskan penggunaan bangunan tersebut sebagai tempat penyimpanan koleksi otomotif mereka.

7128-history-birdwood-mill

Selang beberapa waktu, koleksi mereka dibuka untuk umum. Koleksi-koleksi seperti mobil, motor, lukisan serta pernak-pernik lainnya dipamerkan untuk pertamakalinya pada tahun1964. Sebuah perusahaan perorangan akhirnya mengambil alih hak pengelolaan museum dibawah pimpinan Gavin Sanford-Morgan, dan tempat tersebut berubah namanya menjadi “Birdwood Mill, Pioneer, Art and Motor Museum”.

Pada tahun 1976 pemerintah Australia akhirnya membeli museum ini untuk mencegah koleksi museum tersebut hilang dan tersebar. Pada tahun 1982 museum ini menjadi tanggung jawab Departemen Kebudayaan South Australia, dan memfokuskan kepada sejarah perkembangan otomotif Australia.

Koleksi Museum

Museum ini pada dasarnya berpusat kepada sejarah perkembangan otomotif di Australia. Seluruh koleksi museum menggambarkan berbagai macam kendaraan yang pernah meramaikan industri otomotif di Australia.

Kendaraan pabrikan mobil pabrikan Ford, Holden hinggan Ferrari terpampang disini dari berbagai tahun produksi. Tidak ketinggalan berbagai pabrikan motor lawas seperti ‘BSA”, “Matchless”, “Norton”, “Indian”, “Harley Davidson”, dan pabrikan lainnya ada disini.

Ketika memasuki museum, para pengunjung dikenakan tarif AUD 15.50 bagi orang dewasa dan AUD 6.50 bagi orang dewasa. Suasana klasik sangat terasa begitu melewati kasir. Berbagai ornamen antik dipajang dari mulai poster, pakaian, hingga mesin lawas kendaraan yang sudah lama tidak diproduksi lagi.

Terbagi dalam berbagai ruangan besar, berbagai kendaraan dari bermacam pabrikan dipajang. Para pengunjung dibuat kagum ketika melihat koleksi museum yang masih segar, lengkap dan tampak baru. Tidak kurang setiap mobil diberi keterangan secara detail.

Tak kalah menariknya, berbagai ornamen klasik yang berkaitan dengan dunia otomotif, termasuk busana, pakaian serta perlengkapan yang dulu sempat digunakan oleh para penggemar otomotif di Australia, terdapat disini.

20170530_154247_001

Selamat berkunjung dan menikmati nostalgia serta mempelajari sejarah perkembangan otomotif Australia.

Salam Petualang!

Mengunjungi Kerajaan Sihir Amerika di Hollywood.

Kali ini petualangan saya di Amerika Serikat membawa saya ke lokasi yang menjadi salah pusat hiburan dunia; Hollywood. Menjejakkan kaki disana seperti berada di negeri dongeng.

fb_img_1487053864797.jpg


Bagaimana tidak, selama ini harapan untuk bisa menjejakkan kaki di pusat perfilman dunia, bagi saya hanya mimpi belaka. Namun demikian, kesempatan itu akhirnya tiba setelah Tuhan mengizinkan saya untuk menempa pengalaman hidup di Negeri Paman Sam.

Berada di California, kota Los Angeles tepatnya, Hollywood merupakan pusat industri dunia perfilman Amerika. Disinilah semua jenis film diproduksi. Disini pula lah pusat berdirinya perusahaan perfilman dunia seperti ‘Warner Bross’, ‘MGM Mayer’, ‘Dreamworks’, dsb.
Hollywood lebih tepat disebut sebagai sebuah kawasan terpadu industri perfilman. Terdiri dari beberapa kompleks shooting, display area, office hingga wahana wisata Universal Studio yang sangat terkenal, berpusat disini.

Berkunjung ke Los Angeles, tentunya sangat disayangkan bila tidak mampir ke area ini. Universal Studio Hollywood merupakan magnet utama para turis untuk datang ke Los Angeles, selain kawasan lain seperti Santa Monica, San Diego, Rodeo Drive atau Beverly Hills tentunya. Tapi, bila melihat jumlah pengunjung setiap hari, bisa dipastikan kawasan Hollywood selalu penuh.

Akses utama untuk masuk ke kawasan Hollywood dipusatkan melalui Universal Studio. Untuk memasuki kawasan ini kita bisa membeli tiket harian atau bila sedang ada promo, anda bisa membeli tiket untuk 2 hari berturut-turut dengan harga spesial. Harga tiket masuk berkisar 90 USD hinga 130 USD untuk dewasa.

Perjalanan yang saya tempuh melalui darat sekitar 8 jam dari Portland, Oregon menuju San Francisco, ditambah 6 jam lagi menuju Los Angeles. Total perjalanan darat memakan waktu 14 jam hanya untuk satu balikan. Menginjakkan kaki di Los Angeles, udara tropis langsung terasa. Hangat, matahari dan macet menyelimuti kota ini. Kondisi sebaliknya dengan kondisi suhu di kota Portland, negara bagian Oregon. Suasana di Los Angeles rasanya seperti berada di Jakarta, mengingat suhunya yang mirip dan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang. Selain itu, kota ini merupakan destinasi utama para turis dan selebritis dunia yang terbiasa tinggal dikawasan tropis, karena iklimnya yang dirasa cocok.

Ada yang unik saya rasakan ketika berada di ‘Los Angeles Highway’ menuju kawasan Hollywood; dimana saya amati, hampir 8 buah helikopter selalu berada di udara, tampak sibuk dan jarang saya temui hal seperti itu di kota lain di Amerika pada umumnya. Tapi itulah tanda bahwa kota ini memang salah satu pusat metropolitan dunia, dengan segala gemerlap dan kemewahannya, tidak heran bila kota ini menjadi magnet bari para ‘Pemburu Dollar’.

Menyusuri Highway di Los Angeles sendiri nampak harus mengantri, terlebih bila jam kerja, hampir mirip dengan Jakarta saya pikir. Jalanan mulai lenggang ketika kami mulai berpisah menuju Area Hollywood. Tak cukup lama, memasuki pintu gerbang masuk, jalanan kembali padat menuju pos tiket parkir masuk kawasan Hollywood.

Suasana area parkir Universal Studio, Hollywood.

Pos penjagaan tiket parkir tampak seperti pos kebanyakan di Mall, terbuat dari beton dan pintu dijaga oleh palang besi melintang berwarna hijau. Seperti biasa, kami harus membayar tiket masuk mobil berkisar 20 USD per mobil.

Area parkir di kawasan tersebut boleh dibilang sangat luas, terdiri dari beberapa sektor dan dihiasi ornamen-ornamen khas Hollywood; menandakan bahwa kita sudah berada di kawasan ini. Namun demikian, saya pikir lahan parkir yang luas itu pun belum tentu sanggup menampung seluruh pengunjung yang ada pada saat hari libur nasional.

Dekat gerbang masuk, terdapat Ticket Counter yang berada disebelah kiri gerbang. Kami pun membeli tiket harian sebesar 129 USD per orang. Hamparan karpet merah dan gerbang putih bertuliskan Universal Studio Hollywood pun segera menyambut, diiringi oleh musik orkestra khas Film Hollywood turut diperdengarkan melalui speaker, menambah aroma dan kesan kuat akan Karakter Hollywood.

Tidak sabar, penasaran dan excited, semua bercampur jadi satu. Bagaimana tidak, hal yang selama ini hanya saya lihat melalui bioskop dan layar kaca, hampir semuanya nampak didepan mata. Ditambah, melalui brosur-brosur yang saya baca, saya bisa melihat langsung atraksi serta proses berlangsungnya pembuatan film terkenal di kawasan ini.

Area Universal Hollywood ini sangat, sangat luas, berbukit dan bervariasi. Atraksi pun beragam, dari wahana permainan, hiburan, hingga tour dengan shuttle bus ke area shooting Hollywood. Tour inilah yang tentunya saya utamakan sejak awal, dan baru saya bisa menikmati wahana yang ada.

Shuttle Bus Tour

Untuk mengikuti tour ini, saya tidak harus membayar lagi tiket, karena semua sudah termasuk dalam tiket harian/terusan yang sudah saya beli. Saya segera mengambil antrian untuk mendapatkan jadwal bis selanjutnya. Selang 30 menit atau lebih, bis tour datang, dan menurunkan penumpang yang sudah terlebih dahulu naik. Saat bis kosong, barulah saya bisa naik dan mendapatkan tempat duduk.

Bentuk bis sendiri tergolong unik, semi opened dan tidak ditutupi jendela serta pintu. Di depan bis terdapat sebuah TV layar datar berukuran kecil berada disamping pengemudi. Sebelum bis berjalan, tour guide terlebih dahulu menyampaikan kata sambutan dan memutar sedikit informasi tentang aturan selama tour berlangsung dalam video.

Saya melihat pengelolaan kawasan ini sangat profesional. Dari mulai driver, ticketing hingga tour guide, semuanya bekerja maksimal, tanpa raut muka lelah sedikitpun. Padahal, kalau saya bayangkan, berapa ratus ribu orang harus mereka hadapi dan layani setiap harinya, harus disapa bahkan selalu tersenyum. Membutuhkan energi yang ekstra tentunya. Setelah selesai sedikit presentasi, Bis pun mulai perlahan bergerak menuju ke dalam dunia imajinasi yang sesungguhnya.

Atraksi Tour

Seperti biasa, bis tour melewati berbagai macam area perfilman yang sering saya lihat dalam adegan bioskop. Dalam perjalanannya, bis ini melewati hampir 20 area perfilman lebih. Diantaranya melewati scene pembuatan film “Fast & Furious”, “Jaws”, “King kong”, “Back To The Future”, “The Simpsons”, “Terminator”, “SEx & The City” hingga adegan film “The End Of The World” yang dibintangi oleh Tom Cruise. Tidak lupa pula kami melewati taman Jurrasic Park, serta motel yang populer dan sering muncul dalam adegan film misteri “Alfred Hitchkock”.

Selama tour berlangsung, saya betul-betul merasakan atmosfir film yang terjadi, seakan-akan saya sedang berada didalam adegan film itu berlangsung. Ketika melewati reruntuhan pesawat jatuh dalam film “The End of The World”, saya merasakan situasi yang getir dan mengerikan, karena lokasi syuting memang didesain sedemikian rupa hingga kita bisa merasakannya. Luar biasa.

Memasuki area film “Jaws”, kami melewati kolam yang cukup luas, dan tiba-tiba muncul “Bruce” (Nama ikan hiu yang menjadi peran utama di Film Trilogi “Jaws”). Bruce muncul secara tiba-tiba dan menyerempet bagian samping bus tour. Pengunjung pun dibuat terkejut dan tersenyum setelah kemunculan ikan tersebut.

Oh ya, selama tour berlangsung, sang “Tour Guide” pun terus berbicara untuk menjelaskan setiap area yang dikunjungi dan kegiatan yang berlangsung, sehingga kami para pengunjung bisa paham akan apa yang sedang dilakukan para penggiat film tersebut saat bis tour lewat.

Wahana Permainan

Setelah selesai berkeliling dengan Bis Tour, saya pun sedikit beristirahat dan menikmati makan siang sejenak. Sambil melihat peta lokasi, saya sedikit tertegun akan luasnya lahan dan banyaknya wahana permainan yang harus saya coba. Semuanya menarik dan serba canggih. Mulai dari Rumah hantu, bioskop 4 dimensi, roller coaster, hingga “The Simpson” simulator yang memadukan teknologi 3 dimensi dengan kursi bergerak, sehingga kita seakan berada didunia film The Simpson.

Salah satu hal yaang menarik bagi saya, adalah lokasi Rumah Hantu di kawasan ini. Saya sendiri adalah penggemar Film Horror, maka tidak asing bagi saya untuk mengenali karakter-karakter yang ada di lokasi tersebut. Bentuk Rumah hantu sendiri seperti istana yang terbuat dari batu alam berwarna abu-abu, nampak kolot dan kolosal, menambah kesan angker dari luar. Memasuk pintu masuk, kami disuguhi sedikit pameran kolosal akan karakter holloywod yang terkenal dalam genre Horor. Sebut saja Drakulla, Chucky, Zombies, Freddy ‘The Nightmare’, Jason of ‘Friday the 13th’, hingga tokoh Hannibal Lecter dalam film horor ‘Silence of The Lamb’. Kostum sang karakter pun dipajang dan diberi keterngan mengenai bahan dan sejarah dibuatnya kostum tersebut.

Wahana Rumah Hantu ala Hollywood.

Terjebak didalam rumah hantu seorang diri.

Berhubung saya datang ke lokasi Universal Studio seorang diri, otomatis saya pun harus masuk sendirian masuk ke berbagai wahana, termasuk wahana Rumah Hantu. Hollywood memang sangat mahir dalam menyihir penonton untuk merasakan atmosfir film. Terbukti, ketika masuk ke lokasi rumah hantu, kita tidak langsung masuk ke lokasi, melainkan kita disuguhi pemandangan yang lumayan menakutkan dari karakter-karakter horor hollywood, ditambah alunan musik seram yang dibuat khusus. Situasi ini secara tidak sadar membuat saya sedikit bergidik, dan harus menunggu pengunjung lain untuk bersama-sama masuk ke dalam Rumah Hantu tersebut. Hebat.

Salah satu karakter penghuni Rumah Horor di Hollywood.

Uniknya, ketika masuk bersama rombongan lain, saya sempat terpisah karena keasyikan melihat boneka horor yang nampak seperti hidup. Dari mulai adegan munculnya Zombie, Drakula hingga Freddie. Saat tertinggal, sedikit muncul kegugupan saya, dan terus terang, saya agak sedikit ketar-ketir, melihat jalan masih panjang dan gelap. Tidak ada pilihan lain, saya harus terus berjalan. Saya sangat sangat terkejut ketika dalam lorong gelap muncul sosok anak kecil berbaju garis merah putih, datang berlari sambil membawa pisau; ya, itulah Chucky, boneka pembunuh yang muncul dalam film horror “Chucky”. Uniknya ‘Chucky’ yang satu ini nampak hidup, dan bukan boneka melainkan manusia yang didandani mirip dengan boneka tersebut. Sedikit demi sedikit saya mulai maju, dan…berlari!

Pengalaman yang unik saya alami di Rumah Hantu, sehingga saya harus tertawa sendirian karena ketakutan tadi. Ternyata, Chucky’ yang hidup tadi adalah manusia asli, yang diperankan oleh aktor, sehingga nampak hidup. wow!

The Mummy

Salah satu atraksi yang tak kalah menariknya adalah wahana “The Mummy”. Saya pikir, pertama kali saya melihat wahana ini dari luar, itu adalah semacam pertunjukan teater dan rumah hantu seperti yang tadi saya lewatkan. Ternyata salah besar.

Antrian pun cukup panjang, bisa memakan 45 menit untuk bisa mencapai pintu masuk. Ini artinya, wahana tersebut sangat menarik. Dalam antrian, saya melihat adanya titipan barang berupa locker yang bisa dikunci secara pribad, dan harus membayar ekstra, saya berpikir tidak perlu, toh, ini hanya wahana rumah hantu biasa, tidak perlu ada yang harus dititipkan.

Waktu giliran saya pun tiba. Kami disortir berdasarkan tinggi badan dan dipilih sekitar 20 orang untuk masuk ke dalam sebuah ruangan. Ruangan saat itu gelap, dan hanya nampak tempat duduk yang tersususun seperti dalam Bis. Setelah duduk, kami pun harus memasang sabuk pengaman. Saya mulai curiga, karena terus terang, hal yang paling saya benci ketika berkunjung ke Sebuah Wahana permainan adalah Roller Coaster. Tapi rasa kecurigaan saya langsung hilang, ketik lampu dimatikan, dan didepan tempat duduk terdapat layar besar dan langsung menyala. Dalam layar muncul sebuah suara pendeta Atuthkamen” yang seakan sedang berinteraksi dengan saya. Keberadaan Sound System yang akurat, ditambah bau belerang menyengat dan asap yang mengepul, cukup menghipnotis saya seakan berada di dunia Mesir Kuno. Uniknya, ketika adegan semut pemakan bangkai muncul di layar, seketika terasa seperti kawanan semut datang mengelilingi kaki dan pinggang saya! saya pun berteriak karena kaget. SEketika, kursi mulai terasa bergerak, dan betul saja, ternyata pertunjukan utama wahana itu adalah roller coaster yang dirancang secara 4 dimensi.

Gambar didepan layar nampak seperti alur time warp yang bergerak maju, membuat seakan saya bergerak cepat dan menurun seperti nyata. Padahal, yang bergerak sesungguhnya hanya kursi, dan ia tidak bergerak kemana-mana. Namun karena gambar dan pergerakan yang disinkronisasi sedemikian rupa sesuai motion gerakan, maka itu akan nampak menjadi nyata. Sungguh teknologi yang luar biasa.

Shopping & Dining Area

Setelah puas berkelana, akhirnya saatnya saya mengisi perut dan menawar rasa haus. Saya pun segera melihat peta dan menemukan sebuah spot area yang berisi toko merchandise, resoran dan pernak pernik hiasan lainnya ala Hollywood.

Restoran yang tersedia di kawasan ini tergolong unik. Mereka umumnya dihias berdasarkan tema film. akhirnya Saya tertarik untuk mencoba Burger disebuah restoran yang dihias berdasarkan film “Forest Gump”. Semua menu merujuk kepada adegan dan karakter yang terdapat dalam film tersebut. Tidak ketinggalan pula toko cinderamata pun bertebaran, dari mulai toko franchise klub Baseball L.A. Dodger, hingga klub Basket L.A. Lakers. Semua tersedia lengkap.

Singkat kata, sebelum pintu keluar, saya sempat menyaksikan pertunjukkan atraksi air berdasarkan tema film “Waterwold” yang filmnya dibintangi oleh Kevin Costner. Pertunjukan berlangsung selama 30 menit dan berselang setiap 1.5 jam setiap pertunjukannya. Atraksi kejar-kejaran antara Bajak laut dengan sang jagoan pun terjadi, mirip dengan adegan di film.

Itulah pengalaman saya mengunjungi Hollywood, Dunia Sihir perfilman yang sudah berhasil menghipnotis Manusia di Bumi ini. Semoga bermanfaat dan bisa memberi gambaran tentang kondisi kawasan ini.

Salam travellers!

‘Yosemite National Park’, Keindahan Elok Hutan Pinus khas Amerika.

Hutan Pinus nan luas terhampar, udara berkabut, ‘astonishing view’, dilengkapi sarana rekreasi lengkap mulai dari Camping Ground, Hotel, Restaurant, Cycling & Jogging track, Fishing spot hingga Teater, membuat kawasan ini menjadi salah satu ikon kawasan Wisata di Amerika Serikat.

Ketika tinggal di Portland, Oregon, Amerika Serikat, setiap akhir pekan, selalu saya mempersiapkan daftar acara untuk menghabiskan libur. Selain bertemu teman-teman atau sekedar ngumpul di bar, saya selalu mengunjungi ‘spot area’ yang berhubungan dengan alam.

Melihat sebuah brosur ketika singgah di Gas Station mengenai California, saya membaca sebuah kawasan Hutan lindung yang terlihat indah dan luas disana; Yosemite National Park. setelah membaca brosur, mendalami, dan riset melalui internet, akhirnya saya putuskan bahwa inilah destinasi selanjutnya bagi saya untuk berpetualang.

Tidak lama, beberapa hari kemudian saya kontak beberapa teman untuk menemani saya dalam perjalanan ke kawasan itu. Berhubung jadwal pekerjaan yang padat, akhirnya saya mendapatkan satu orang partner untuk menemani saya kesana.

Perjalanan yang ditempuh dari tempat saya tinggal (Portland, Oregon) berjarak hampir 750 miles, dengan waktu tempuh sekitar 12 hingga 14 jam perjalanan dengan berkendara. Bersama teman, kami memutuskan untuk berkemah di kawasan tersebut. Selain bisa menikmati langsung suasana alam disana, kami memiliki hobi yang sama: berkemah.

Bagi saya, jalan paling menyenangkan adalah menjadi ‘backpacker’, bukan menjadi turis. Menjadi backpacker, saya seperti bisa merasakan petualangan yang sebenarnya, dari menginap di motel murah, bisa menikmati masakan lokal, dan bisa mengunjungi ‘kawasan tikus’ yang turis jarang datangi pada umumnya.

Perjalanan Dimulai

Saya sepakat untuk berpetualang bersama rekan kerja sekaligus sahabat saya yang berasal dari Filipina. Kami berangkat dari Portland sekitar pukul 6 pagi. Ketika itu cuaca sedang bersalju, dan udara dingin pun langsung menusuk ketika kami berada diluar rumah. sedikit kekhawatiran muncul muncul ketika udara dingin pun akan melanda tempat tujuan yang akan kami datangi, Yosemite National Park. Tapi tak apalah saya pikir, kalau udara terlalu dingin diluar nanti, kami akan memutuskan untuk tinggal di San Francisco saja.
Berhubung rute perjalanan yang cukup lumayan jauh, kami melakukan jadwal driving bergantian, dan beristirahat di rest area sepanjang Highway. ketika pulang, kami bermalam ditengah perjalanan. Bermalam didalam mobil ditengah Rest Area dan berada ditengah cuaca bersalju, ternyata bukan hal yang mudah. Dalam waktu 1 jam, terasa udara dingin menusuk kedalam kabin mobil ketika saya tidur. Tidak jarang saya harus menyalakan mesin mobil dan ‘heater’, menjaga agar kami tidak kedinginan. Menggunakan selimut tebal, jaket ‘winter’ dan ‘beannie’ (penutup kepala), ternyata tidak cukup menahan dinginnya udara musim dingin di California.

Hati saya sedikit lega setelah perjalanan sekian lama, dan melihat sign “Welcome to California”, artinya kami sudah hampir seperempat perjalanan lagi untuk tiba disana. Setelah melewati rute Highway yang cukup panjang, akhirnya kami tiba di Sacramento, Ibu Kota California.

yosemite-direction
Di area inilah terdapat pintu keluar menuju area Yosemite National Park.

Tiba Di Sacramento, kami pun beristirahat sejenak dan menikmati makan siang kami di restoran fast food terdekat. Setelah selesai, segera kami bergerak menuju kota kecil bernama Morada. Dari sana, kami menuju jalan yang menghubungkan kota tersebut dengan Yosemite National Park.

Petualangan Sesungguhnya Baru Dimulai.

Setelah melalui perjalanan beberapa puluh kilometer, dan melewati kota kecil bernama Groveland, pemandangan selama perjalanan mulai berubah, dimana jalan berliku dan mulai dipenuhi Hutan Pinus disekelilingnya. Jalan terjal dan menanjak mulai dirasa, dan suasana hutan pinus pun mulai terasa kental.

yosemite-road1

Sekilas, pemandangan sepanjang perjalanan di kawasan ini tampak menyeramkan. Jarang saya melihat mobil lalu-lalang. Sesekali saya melihat kawanan rusa melintas, dan burung elang yang terbang.

Sebagai gambaran lengkap, bila anda pernah melihat salah satu iklan rokok buatan Amerika “Marlboro”, dimana ada adegan seorang koboy menunggangi kuda di tengah hutan pinus sambil menikmati kopi yang dituangkan ke gelas aluminium dan dimasak dengan kayu bakar; kira-kira demikianlah gambarannya. Dan terus terang, sejak saya menyaksikan iklan tersebut saat duduk di bangku SMP, saya sangat terinspirasi untuk mengunjungi kawasan yang ada di iklan tersebut.

Saat yang dinanti tiba, saat jalan mulai melebar dan mulai tampak sedikit keramaian. Pos pembayaran tiket pun nampak. Suasana disana nampak asri dan sejuk.

Tampak Pos tiket yang berbentuk kabin dan terbuat dari kayu pun menambah suasana menjadi lebih alami. Melihat plakat kayu yang berisi keterangan harga tiket, kami tahu akhirnya bahwa untuk masuk ke kawasan tersebut dihitung berdasarkan individu. Waktu itu, kami membayar 10 USD per orang. Jumlah yang dirasa relatifcukup terjangkau bagi kami ketika itu.

entrance-to-yosemite-national-park-may12
Ketika tiba di pos pembayaran, petugas biasanya menanyakan jumlah penumpang dalam kendaraan dan tujuan berkunjung; apakah ingin menginap atau sekedar wisata harian.

Setelah melewati Pos pembayaran, kami harus menempuh sedikit lagi perjalanan menuju area pusat wisata. Di area pusat wisata tidak banyak terdapat hiburan yang saya pikir bakalan mirip seperti ‘Disneyland’ atau ‘Dufan’ di Indonesia. Disana hanya terdapat satu hotel dan restaurant, yang kebetulan menjadi salah satu ikon kawasan tersebut.Tidak melewatkan kesempatan, kami sejenak memarkirkan mobil dan mengunjungi Hotel di kawasan tersebut. Tidak lupa kami bisa meminta sedikit peta kawasan tersebut kepada petugas.

400px-map-usa-yosemite00
Peta area Taman Nasional Yosemite secara keseluruhan. (Foto: Wikitravel)

Information Center dan Museum.

Untuk melengkapi sarana informasi kami mengenai kawasan ini, kami memutuskan untuk mengunjungi Information Area, dimana kami mendapati ‘Theater’ dan toko cinderamata serta berbagai brosur mengenai informasinserta event di kawasana tersebut, dan bisa didapat secara gratis. Tidak lupa Information Center juga berfungsi sebagai Museum kecil yang menceritakan sejarah tentang kawasan ini.

Museum di area ini tergolong lengkap, bersih dan modern. Melalui informasi yang tersedia, kita bisa mengetahui sekilas tentang sejarah kawasan ini. Mulai dari populasi dan jenis binatang, tumbuhan, hingga sejarah pembangunan serta insiden yang pernah terjadi.

6597016-yosemite_visitors_center_museum_yosemite_national_park
Sejarah dibukanya kawasan Hutan Lindung Nasional Yosemite. Terlihat display pakaian tradisional para pekerja serta penduduk sekitar sejak awal dibukanya kawasan ini.

The Hotel.

Hotel ini dinamakan “Ahwahnee” dalam bahasa Indian Kuno. Bangunan Hotel terdiri dari batu alam yang disusun agak berantakan, menambah kesan bangunan menjadi lebih alami. Bangunan nampak menyatu dengan alam, ditambah perpaduan kayu pinus sebagai rangka atap yang tampak menonjol keluar, tampak elegan dan alami.

Sebelum pintu masuk lobi hotel, kami melewati plakatyang memberikan keterangan mengenai sejarah berdirinya hotel ini. Dibangun pada tahun 1927, hotel ini termasuk salah satu cagar bangunan yang dilindungi oleh pemerintah Amerika Serikat.

historic-plaque-near-the-bus-stop-at-the-ahwahnee-hotel-s
Plakat kecil yang menceritakan sejarah berdirinya hotel. Plakat ini terletak diluar area bangunan hotel.

Berada didalam bangunan, suasana didalam hotel begitu hangat, dan kaya akan ornamen sejarah kuno Indian Amerika. Maklum, dulunya kawasan ini dihuni oleh para suku Indian, sehingga aroma Indian kental dalam hotel ini. Tidak lupa, ditengah lobby terdapat sebuah tungku perapian yang ukurannya lumayan cukup besar, cukup untuk membuat hangat seluruh ruangan lobi hotel.

DSC00816.JPG
Lobby utama Hotel. Kaya akan ornamen Indian Kuno serta sejarah Amerika.

Setelah beristirahat dan berkeliling sebentar di sekitar hotel , akhirnya kami melanjutkan perjalanan kami ke kawasan Hutan Pinus yang terkenal di Yosemite National Park; dan tebing tingggi yang terkenal dengan sebutan “El Capitan” di kawasan tersebut. Tebing ini menjadi salah satu ikon Yosemite National Park.

Hutan Pinus Yosemite

Perjalanan cukup memakan waktu yang lumayan lama menuju satu area ke area lain di kawasan ini, dikarenakan luasnya lahan yang berada diluar perkiraan saya. Saat tiba di area masuk hutan pinus, disana terdapat kawasan parkir yang luas dan nyaman serta asri. Di area parkir terdapat “Rest Area” yang disediakan bagi para pengunjung. Area mulai ramai dikunjungi banyak penduduk ketika itu, menandakan bahwa inilah area favorit Yosemite National Park.

dsc00746
Area parkir di Kawasan Hutan Yosemite National Park.

Jalan setapak, semak belukar dan hutan pinus dikelilingi oleh sungai kecil disekitarnya, ditambah kicauan burung, menambah suasana hutan pinus menjadi lebih menyejukkan. Ketika itu, kebetulan sedang musim dingin, dimana kabut tipis menyelimuti area hutan, pemandangan yang sungguh fantastis!

Selidik punya selidik, di kawasan ini sering pula digelar betbagai acara dan festival yang berhubungan dengam seni dan Olahraga. Yang paling sering saya dengar adalah event balap sepeda yang melewati rute Yosemite National Valley Road. Tampak juga kadang-kadang event pegelaran seni lokal dari beberapa komunitas setempat atau outer state.

Selama berpetualang, saya jarang menemukan atmosfir yang membuat saya merinding seperti ini. Sangat beruntung sejak kecil saya sangat mencintai hutan dan area sejenisnya, dan kebetulan saya tumbuh besar di daerah pegunungan di Jawa Barat, sehingga saya terbiasa dengan itu.

Sepanjang jalan setapak didalam hutan, banyak saya temui pohon pinus raksasa yang diperkirakan berusia ratusan tahun. Saking besarnya, pohon in bisa berdiameter 10 hingga 17 orang dewasa.

yosemite_national_park_attr_10
Pohon Pinus raksasa yang terdapat di kawasan hutan Yosemite National Park.

Air Terjun.

Sedikit berjalan lebih jauh kedalam, saya melihat sebuah tanda berwarna coklat; itu tandanya bahwa sign tersebut menunjukkan adanya sebuah titik wisata alam. Papan coklat itu bertuliskan “Bridalveil Fall”. Ya, itulah salah satu titik yang menjadi daya tarik di kawasan hutan Yosemite: Air terjun Bridalveil.

dsc00747
Tanda berwarna coklat menandakan adanya objek wisata. “1000 feet” menunjukkan ketinggian air terjun Bridalveil di Kawasan Yosemite National Park dari atas permukaan laut.

Menuju ke lokasi air terjun jarus ditempuh lumayan panjang. Dan beberapa puluh meter kemudian, jalan mulai menanjak dan mengecil. Dipenuhi kerikil-kerikil kecil dan sedikit lembab, menunjukkan bahwa tidak jauh dari lokasi tersebut terdapat sumber mata air, atau sungai. Setelah berjalan lebih ke atas, sayup-sayup terdengar suara gemuruh. Melewati sedikit hamparan semak belukar, akhirnya saya tiba di titik air terjun. Berada pada ketinggian yang lumayan tinggi (1000 feet), nampak pemandangan air terjun yang menjulang, dan disertai hamparan air yang jernih. Pemandangan air terjun kali ini agak berbeda dari biasanya, mungkin dikarenakan tingginya puncak air terjun, sehingga ujungnya tampak mengecil dan hampir tak dapat dilihat oleh kasat mata.

Sedikit penasaran, saya mencoba meneguk sedikit air tersebut, dan luar biasa, rasanya seperti air mineral yang biasa saya konsumsi di Indonesia.

dsc00754
“Bridalveil Fall”,Yosemite National Park.

“El Capitan”.

Setelah cukup lama berkeliling di dalam kawasan hutan pinus, akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi objek wisata lain di kawasan tersebut: El Capitan.

“El Capitan” merupakan sebutan bagi sebuah tebing granit putih vertikal nan curam, berketinggian hampir 3000 kaki, menjulang tinggi bagaikan menusuk langit dan berada di bagian utara kawasan hutan. Sebutan ini diberikan oleh sang penemu Juan Rodriquez Cabrillo, seorang petualang asal eropa (Spanyol) yang pertama kali menemukan tebing ini. Sebagai gambaran, ketinggian puncak El Capitan hampir 4 kali ketinggian Menara Eiffel di Paris.

el_capitan_eiffel_bbc
Perbandingan ketinggian “El Capitan” dengan Eiffel Tower di Paris. (Foto: SBS.com.au)

El Capitan sering dijadikan objek favorit bagi penggemar olahraga panjat tebing. Banyak pula yang meregang nyawa di lokasi ini, karena kedingingan atau jatuh. Tapi, cerita menakutkan tersebut tidak menyurutkan para penggemar olahraga tersebut untuk berlomba menaklukan “El Capitan”. Alhasil, titik ini menjadi tersohor di seluruh pelosok Amerika, karena cerita dan keunikannya.

dsc00796
Berlatar belakang “El Capitan”

Luasnya kawasan Hutan Nasional Yosemite, membuat pemerintah lokal harus memberi nama beberapa titik di kawasan tersebut, agar mudah diingat oleh para pengunjung. Kawasan ini dalam ketersediaan fasilitas sarana rekreasi alam, cukup terbilang lengkap. Dari fasilitas Hotel, Camping, Jogging, Hiking walk hingga Shuttle Bus serta kawasan memancing terdapat disini. Tidak heran bila kawasan ini menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan lokal, khususnya bagi para pelancong yang tinggal di California, Amerika Serikat.

bike-path-map
Jalur sepeda yang tersedia, ditambah trak yang unik, membuat kawasan in menjadi salah satu favorit para penggemar olahraga sepeda, baik amatir maupun profesional.

The Camping Ground.

Tak terasa, waktu malam hampir tiba, saatnya kami untuk segera mempersiapkan peralatan bermalam kami di kawasan ini. Karena memang awalnya kami sudah berencana untuk bermalam dan mendirikan tenda, maka kami pun segera meluncur ke kawasan perkemahan di Yosemite National Park. Lokasi perkemahan di Yosemite National Park sebetulnya hampir tersebar diseluruh kawasan ini, tetapi kawasan yang paling sering orang kunjungi untuk berkemah adalah ‘Wawona’, sebuah area perkemahan yang terletak di bagian selatan kawasan hutan lindung Yosemite.

Di kawasan ini banyak dijumpai banyak perkemahan serta hamparan tanah datar dan lapang, cocok untuk mendirikan tenda. Tidak menunggu waktu lama, sebelum gelap, kami pun segera mendirikan tenda dan beristirahat untuk segera melanjutkan perjalanan pulang keesokan harinya.5654667_orig

Sebelum mengunjungi kawasan perkemahan ini, kami memang sempat diberi informasi mengenai adanya komunitas kawanan beruang. Bila salah waktu dan nasib, bisa-bisa anda bermasalah dan harus berurusan dengan induk beruang yang ganas. Maka dari itu, kami mengikuti petunjuk Rangers Patrol (Polisi Hutan, red) tentang lokasi yang dirasa aman dari kedatangan kelompok beruang madu ini.

bearincampsite-lg
Tidak jarang dijumpai anak beruang yang mengendus bau makanan dan mendatangi lokasi perkemahan di kawasan ini.

Suasana malam sungguh menusuk dan hening. Sesekali kami mendengar lolongan serigala dari kejauhan. Tidak ingin melewatkan kesempatan, sejenak saya beranikan diri untuk menyalakan api unggun sambil menikmati secangkir kopi hangat.

Ketika itu, terus terang saya agak sedikt khawatir dan paranoid tatkala mendengar sesuatu dari balik semak belukar. Yang saya khawarirkan adalah kemunculan Beruang atau serigala yang siap menerkam saya. Maka dari itu selalu saya bawa Pisau belati kesayangan sejak awal. Dan syukurlah, hal yang saya khawatirkan tidak pernah terjadi.

Melihat pemandangan ketika malam, tidka banyak yang dilihat ketika itu. Hanya, bila saya melihat ke langit, tampak taburan bintang yang gemerlap menerangi gelapnya kawasan hutan ini.

Ketika itu, saya sedikit berimajinasi tentang kehidupan zaman dulu kala, ketika orang-orang Indian dan para penduduk lokal harus bertahan hidup dan berjuang melawan dinginnya alam serta ganasnya Beruang dan serigala yang hidup di kawasan ini. Sungguh perjuangan yang tidak mudah saya pikir.

Setelah cukup beristirahat, tiba waktunya bagi kami untuk berkemas dan kembali ke tempat tinggal kami di Portland. Selama perjalanan pulang, memori saya akan tempat ini terus menempel, sambil sesekali berpikir tentang rencana perjalanan saya selanjutnya: San Francisco dan Los Angeles!

Sungguh pengalaman yang unik dan bermanfaat untuk merenungi betapa Agungnya Karunia Yang Maha Kuasa. Bila anda berkunjung ke California, kawasan ini salah satu tempat yang wajib anda kunjungi bagi para petualang.

Selamat mencoba dan keep exploring.

Salam Travellers!

Pesona “Jalan Alor”, Kuala Lumpur, Malaysia.

Sungguh salah, bila selama ini saya beranggapan bahwa Malaysia, khususnya Kuala Lumpur adalah sama dengan kota metropolitan seperti kota lainnya di dunia. Hingga akhirnya saya menemukan sebuah lokasi unik yang menjadi tempat favorit saya setiap kali singgah ke Malaysia.

Ketika itu, saya berkunjung ke Malaysia guna menghadiri pernikahan adik ipar saya di Johor Baru, Malaysia. Saya pun berangkat ke Malaysia melalui Singapura dengan menggunakan transportasi Bis. Pengalaman tersebut cukup dirasa unik, karena baru kali ini saya melancong dari Singapura dan Malaysia dengan menggunakan sarana transportasi darat.

Berangkat dari Batam, Kepulauan Riau, Indoensia akhirnya saya bisa sampai ke Singapura dengan mnggunakan Kapal Feri. Dengan ongkos 80.000 IDR per orang, saya tiba di pelabuhan Singapura bersama Istri tercinta. Satu hari menginap di Singapura, akhirnya kami berangkat ke Terminal Bus yang terletak di ‘Queen Street’, yang terletak di distrik Bugis.

Tarif Bus dari Singapore ke Johor Baru bermacam-macam, dimana besarnya tarif bergantung kepada perusahaan bus yang mengelola. Tapi, pada umumnya tarif yang dikenakan berkisar antara 1.30 SGD hingga 4.00 SGD. Fasilitas yang ditawarkan pun beragam, dari Executive class hingga Economic Class.

Perjalanan ditempuh kurang lebih 1.5 jam. Jarak antara Singapore dan Johor Baru memang tergolong dekat, sehingga waktu tempuh pun tidak terasa lama, apalagi sambil tertidur dalam perjalanan.
Setelah melewati perbatasan dan cek imigrasi, kami tiba di terminal Johor Baru untuk transit dan menurunkan penumpang. Setelah itu Bus segera meluncur ke Kuala Lumpur.

Kuala Lumpur

Dengan guyuran hujan, kami tiba di Kuala Lumpur. Kota ini nampak tidak jauh berbeda dengan Jakarta; antrian mobil dan kerumunan manusia nampak. Hanya kota ini lalu lintasnya sedikit lebih teratur dari Jakarta. Dari terminal Bis Kuala Lumpur, kami segera meluncur ke hotel di kawasan Bukit Bintang dengan menggunakan Taxi. Ketika itu, Hotel yang kami pilih adalah ‘Swiss Garden’ Hotel yang berada di kawasan Bukit Bintang.

Kota Kuala Lumpur, yang hampir mirip dengan Jakarta, dan dilengkapi banyak pertokoan berkelas dunia didalamnya, ternyata menyimpan juga berbagai spot area yang unik untuk dikunjungi.

Begitu tiba di Hotel yang berlokasi di Jalan Bukit Bintang, saya bertanya kepada resepsionis mengenai spot area yang recommended untuk dikunjungi, salah satunya adalah Jalan Alor. Setelah sedikit mengetahui informasi.emngrnai kawasan itu, kami pun merencanakan untuk mengunjungi kawasan yang latanya menjadi salah satu ikon wisata kuliner di KL.

‘Jalan Alor’, dari namanya nampak seperti nama jalan biasa pada umumnya. Dalam bayangan saya, tersirat bayangan jalan yang sepi, jalan yang sempit dan agak tidak terurus. Namun ketika tiba disana, sungguh gambaran yang jauh berbeda dari yang saya bayangkan sebelumnya. Lampu hias bergelantungan, musik lokal dan aroma khas makanan bertebaran dimana-mana. Lokasi ini tidak jauh dari tempat saya menginap ketika itu, hanya berjalan sekitar 5 menit dari pusat kota. Kawasan ini mirip seperti daerah pasar malam di daerah Cibadak (Bandung), atau Nagoya (Batam), hanya jauh lebih ramai dan modern dan dipenuhi oleh para turis asing mancanegara, atau kaum ‘ekspatriat’.

Suasana bersahabat, aroma udara yang kaya aroma serta harga makanan terjangkau, membuat kawasan ini ramai dikunjungi banyak orang.

Menginjakkan kaki di kawasan ini, saya menjumpai pemandangan yang unik; dimana para ekspatriat’ (orang asing yang bekerja di dalam negeri,-red) banyak berbaur dengan para lokal mayoritas dan menikmati suasana pasar malam yang ramai dan padat. para ‘bule’/ekspat tersebut tanpa sungkan dan risih duduk menikmati hidangan di pinggir jalan, sambil menikmati Bir dan alkohol tanpa merasa risih atau takut. Sungguh pemandangan yang jarang saya jumpai; terutama berada di negara yang mayoritasnya beragama Islam, yang biasanya penuh dengan aturan baku yang berkaitan dengan agama. Jadi, bisa dipastikan bahwa kawasan ini boleh dibilang aman.

bermacam hidangan tersedia di kawasan ini. Salah satu favorit saya adalah menu ini. Sajian seafood dan makanan khas laut yang dimasak secara ‘barbeque’ atau dicelupkan kedalam air panas selama beberapa menit.

Disana, setiap hidangan nampak memikat ,dari mulai masakan khas Tiongkok, India, Es krim Turki, Melayu hingga Thailand dapat anda jumpai. Masakan Seafood nan segar umumnya mudah ditemukan disini. Harga nya pun rata-rata masih bisa dibilang terjangkau.

Meskipun ada tempat kuliner lain yang boleh dibilang rekomended untuk dikunjungi, kawasan ini boleh dibilang unik dari segi atmosfir dan merupakan sedikit cerminan dari ciri khas budaya lokal. Atraksi seni, musik kadang memenuhi area ini dan menambah semarak malamnya Kawasan Bukit Bintang.
Tidak heran bila kawasan ini ramai dikunjungi. Saking padatnya, jalan ini hanya bisa dilalui oleh satu mobil, dan itu pun harus berjalan dengan sangat pelan, mengingat banyaknya manusia yang memenuhi kawasan ini, ditambah, pinggiran jalan dan trotoar umumnya sudah dipenuhi oleh meja dan kursi. Ada pula para musisi jalanan yang turut meramaikan kawasan tersebut, sehingga atmosfir di kawasan ini menjadi lebih ‘hidup’.

Setelah berkeliling di area tersebut, kami akhirnya memutuskan untuk singgah di restoran yang menyajikan masakan Kanton, dengan menu Ikan kerapu yang dimasak ‘Steam’ dengan saus khas canton, ditemani sayur kailan dan campuran bawang putih, dan hasilnya tentu saja memuaskan. Sengaja kami tidak memenuhi langsung isi perut kami, karena masih banyak hidangan lain yang akan kami cicipi.” Mumpung disini”, begitu pikir saya. Setiap restoran dikawasan itu menyajikan keunikan dan ciri khas masakannya masing-masing dengan harga yang beragam, jadi anda harus teliti dan memilih sebelumnya.

Kawasan ini buka hingga pukul 2 pagi pada umumnya, terlebih pada akhir pekan, bisa dipastikan area ini buka hampir 24 jam.

Serunya, kami menjumpai seorang penjual Duren yang ternyata bersuku Batak, namun sayang kami lupa nama marganya. Saking lamanya tinggal di Malaysia, Amang Boru (Sebutan ‘Paman’ dalam tradisi Batak, -Red.) ini sangat fasih bercakap melayu, hingga akhirnya ia menanyakan asal kami beserta istri dan mertua, dan ia senang bukan kepalang ketika mengetahui bahwa keluarga istri saya berasal dari suku sama; Batak. Alhasil, kami terlibat pembicaraan intens dan menghabiskan banyak durian ketika itu. Mantap.

Jalan Alor, bagi saya nampak seperti Pasar Malam yang berada di tengah kota, cocok bagi anda yang ingin merasakan Jajanan ‘Street Food’ lokal.

Sungguh pengalaman yang sulit dilupakan, dan dipastikan anda wajib mengunjungi kawasan ini bila berkunjung ke Kuala Lumpur, Malaysia.

Menikmati Keindahan ‘Murray River’ di Kota Mannum, South Australia.

image
Kawanan burung Pelikan di sepanjang Murray River, South Australia.

South Australia terkenal akan suasana dan keindahan alamnya. Terhampar jutaan hektar lahan pegunungan nan subur yang dipenuhi oleh ladang-ladang dan perkebunan. Kali ini saya berkesempatan untuk mengunjungi Mannum, Sebuah kota kecil di daerah perbukitan kawasan South Australia.

Terletak di daerah yamg dilewati ‘Murray River’; merupakan sungai terpanjang yang ada di South Australia, tempat ini kerap menjadi kawasan utama bagi penggemar hobi ‘outdoor’.

Memancing, jetski, ‘barbeque party- atau bahkan camping dan ber-karavan ria bisa dilakukan ditempat ini. “Murray River” merupakan salah satu sungai terpanjang yang ada di Australia, Sungai ini membentang hingga ke Victoria, maka tidak heran bila sungai ini menjadi sumber hidup paling utama bagi para penduduk lokal disekitarnya.

Melewati hampir 7 kota kecil, berjarak 82 KM dari Adelaide serta menempuh perjalanan sekitar 2 jam untuk menuju kesana, saya disuguhi sebuah pemandangan sejuk dan mempesona sepanjang perjalanan.

Dari mulai melewati kota-kota dan desa kecil, kami sempat melewati kota kecil dimana banyak terdapat batu-batu alam disekitarnya, bernama “Bear Rock” Palmer Town. Nama ‘Bear Rock’ sendiri diambil dari sebuah batu besar yang berbentuk seekor beruang. Dan hampir tiba di Mannum, saya melihat sepanjang perjalanan sebuah pipa air yang sangat besar terbentang. Ladang gandum yang kami lewati sungguh fantastis luasnya, hampir saya tidak percaya bahwa ada ladang gandum seluas ini kalau tidak melihat langsung.

Sebuah tanda bertuliskan “Welcome to Mannum” terlihat ketika kami melewati jalan besar lurus nan sepi layaknya padang pasir hampir sepanjang 5 KM. Mannum tergolong kota kecil, tapi lumayan modern gaya hidupnya. Terbukti dengan adanya beberapa toko swalayan besar disana. Disana pun terdapat sebuah pabrik besar yang mirip tempat penyimpanan barang. Kalau boleh dibilang, tempat itu mirip sebuah pabrik pengolahan besi dan alat furniture. Melewati daerah perumahan, saya akhirnya tiba di daerah utama kota kecil itu, yang kebetulan merupakan kawasan wisata.

Ditempat ini dipenuhi oleh pertokoan lokal sepanjang jalannya. Dari mulai toko souvenir, coffe shop, toko peralatan hobi outdoor, hingga usaha penyewaan perahu dan villa.

Kota ini terbilang kecil namun boleh dikatakan ramai oleh pengunjung, dengan populasi sekitar 2100 jiwa, kota ini boleh dibilang lumayan, mengingat kota kecil biasanya ‘hanya’ berpenduduk sekitar 800 hingga 1000 jiwa. Mungkin karena kawasan ini ramai dikunjungi oleh masyarakat yang memiliki hobi outdoor, ditambah keunikan wisata air yang jarang dimiliki oleh tempat lain, maka tempat ini menjadi salah satu tujuan utama bagi wisatawan lokal.

Saya pun segera memarkirkan mobil disekitar pinggiran sungai “Murray River”. Tidak jauh dari tempat parkir, saya bisa melihat dengan jelas panorama alam sungai Murray River yang terkenal. Dipinggirannya, pemerintah lokal memanjakan para wisatawan lokal dengan taman rekreasi serta sarana alat barbeque gratis. Gratis? ya, kamu bisa menggunakan kompor atau alat panggang yang disediakan secara gratis, dan tentunya kamu harus membersihkan setiap sarana pemerintah yang kami gunakan.

Kawasan ini dipenuhi oleh populasi burung-burung yang biasa hidup didaerah sungai air tawar. Saya kurang paham betul akan jenis populasi burung, namun yang paling mudah dikenali adalah burung Pelikan. Geli memang, bila melihat paruhnya yang panjang dan lancip, berbadan lumayan besar, paruhnya nampak tajam sekali mampu melukai jari tangan anda. Sebaiknya anda perlu berhati-hati bila makan di area ini, karena terlihat banyak beberapa burung Pelikan berkeliaran didekat anda, dan tidak jarang mereka akan menghampiri anda untuk sekedar mencicipi masakan yang anda bawa.

image

Sebagai objek utama wisata kota ini, terdapat sebuah kapal perahu yang bertenaga uap, bertingkat 3 dan berukuran besar. Bagi anda yang tumbuh di era 80’an, Kapal ini mirip dengan kapal perahu antik dalam film “Little Missy” yang disiarkan oleh stasiun TVRI ketika itu. Kapal ini terdiri dari beberapa kabin dan kamar, serta terdapat sebuah ruangan utama yang berukuran besar, biasa digunakan untuk tempat makan malam. Kapal ini berkeliling sepanjang rute sungai Murray River, dan berputar kembali kepada rute asal.

image

Setelah puas berpiknik di Kawasan Sungai “Murray River”, saya menyempatkan diri untuk berjalan sepanjang kawasan jalan utama kota Mannum. Suasana khas Australia langsung terasa disini. Souvenir dan ”groceries store’ khas australia nampak dominan, dengan hiasan dan lagu lokal yang diperdengarkan melalui speaker lokal, kota ini nampak sedikit “hidup”.

Hotel dan restoran lokal banyak menyajikan masakan barat seperti burger, Fish and Chips dan sejenisnya. Sedikit info, ‘Fish and Chips’ disini terbilang istimewa dan cukup terkenal, boleh dicoba.

Tidak ketinggalan, para pengemar barang antik, disana juga terdapat beberapa toko yang menjual barang antik, termasuk didalamnya piring, cangkir, sendok, dan lain sebagainya. Adapun barang antik yang dijual umumnya berasal dari eropa. Area ini cocok untuk sekedar cuci mata, atau memang bertujuan untuk mengoleksi barang antik.

image

Sebagai tambahan referensi bagi anda penggemar travelling, kota kecil ini layak dimasukan ke dalam daftar kunjungan anda.

Jangan lupa siapkan tenaga dan sisihkan tabungan anda untuk melengkapi liburan bersama keluarga atau sahabat dengan peralatan memancing, berkemah dan membeli perahu boat bila perlu.

Salam traveller!

Indahnya ‘Bay Area’ di San Francisco, Amerika Serikat.

Bila berbicara tentang Kota San Francisco, umumnya orang akan berpikir tentang Golden Gate, yang merupakan ciri khas dari kota ini. Tapi jangan salah, masih banyak ikon lain yang bisa dikunjungi, salah satunya adalah kawasan Bay Area.

“It’s gonna be a long story, though”. Begitu pikiran saya ketika berniat menulis petualangan saya di Kota San Francisco, Amerika Serikat.

Tapi, apa boleh buat, sayang bila kisah ini tidak saya abadikan dalam sebuah tulisan, yang mungkin bisa berguna suatu saat nanti. Well, lets get started, mate!

Waktu menunjukan pukul 4 pagi waktu setempat. Udara sangat menusuk dingin hingga ke tulang rusuk, maklum suhu menunjukan 2 derajat celcius, hampir sama dengan kulkas dinginnya, begitulah kira-kira.

Daerah disana memang terkenal dingin dan bersalju, apalagi bila datang musim dingin pada bulan November hingga Februari, wooow rasanya! kuping pun terasa mau putus karena saking dinginnya.

Saat libur tiba, saya berencana mengunjungi state atau kota dimana mertua saya tinggal saat ini, Richmond, California. Saya pun berencana untuk berpetualang bersama rekan dekat saya asal Filipina, Kim Zapanta.

Kami sepakat untuk memilih berkendara menggunakan mobil ketimbang pesawat, kenapa? karena keingin tahuan saya langsung muncul ketika melihat informasi bahwa perjalanan dari Portland Oregon, ke Richmond , California memakan waktu 8 jam. Terbayang langsung akan keindahan panorama a la film, dan objek wisata lain yang bisa saya singgahi sepanjang perjalanan. Bila anda bepergian menggunakan pesawat, dijamin tidak akan seru perjalanan anda, cepat memang dan tidak melelahkan, but hey man, kita disini bukan untuk keperluan bisnis, atau orang kelebihan duit, hehe. Jadi, opsi berkendara dengan mobil dirasa yang paling memungkinkan bagi kami.

Akhirnya, kami berangkat pukul 6 pagi dan tiba di California pukul 4 sore kurang lebih, karena dalam perjalanan saya harus berhenti untuk mengisi perut dan mengisi bahan bakar.

Ada yang unik sepanjang trip saya selama berkeliling Amerika, tunggu dulu, Keliling Amerika? Betul sekali. Saya termasuk salah satu orang yang beruntung bisa mengetahui seluk beluk hampir setiap negara bagian di Amerika; kebetulan atas izin-Nya saya diberi kesempatan untuk berkendara keliling Amerika, dari ujung Barat ke ujung Timur.

Dalam setiap perjalanan, saya selalu membawa rice cooker dan memasak nasi disetiap rest area, atau bahkan restoran fast food. Dan serunya lagi, kadang saya bisa mendapatkan minuman soda gratis dari setiap restoran fast food yang saya singgahi. Caranya? Sssst…cukup membawa cuo minuman yang bermerk sama dengan yang tersedia di fast food, anda bisa meminta mengisi ulang kepada petugas disana. Latak dicoba. Meskipun, harga soft drink disana tidak begitu menguras kantong pada umumnya.

Setelah sampai di California, Perjalanan masih harus ditempuh sekitar 3 jam untuk menuju Los Angeles, dan 2 jam menuju San Francisco.

California, ternyata sebuah tempat yang indah, subur dan hijau. Sepanjang Highway, terlihat nanyak sapi berkeliaran di padang rumput, dan ladang gandum yang Maha Luas. Inilah gandum yang akan digunakan sebagai bahan utama roti dan bir bermerk ‘Budweiser’ diantaranya. Dan, ladang gamdum ini hanya terdapat di California karena suhu yamg cocok.

Sampai di Richmond, kota kelahiran sang legenda Bruce Lee, Kota ini terbilang lumayan padat, dengan populasi lumayan besar, tapi tidak sebesar Bandung. Kota ini boleh mirip fungsinya dengan New Jersey; sebagai kota transit fungsinya. Banyak orang tinggal di Richmond dan bekerja di San Francisco, seperti halnya orang tinggal di New Jersey untuk bekerja di New York City.

Setelah beramah tamah dengan kerabat dan keluarga di kota Richmond, sang mertua menyuguhkan masakan khas Indonesia yang lezat. Setelah menikmati hidangan, tak terasa mata terasa lelah, saya pun memutuskan untuk segera beristirahat.

San Francisco.

Esok hari, saya memutuskan untuk mengunjungi kota San Francisco. Kebetulan jarak dari kota Richmond ke San Francisco ‘hanya’ 1 jam lamanya, atau 45 menit, pake acara ngebut.

Pagi hari ‘on the day after’, saya langsung meluncur ke kota San Francisco sejak awal dan sarapan terlebih dahulu, mengingat banyaknya tempat yang akan saya datangi nanti, dan saya hanya memiliki waktu yang lumayan singkat, akhirnya saya memutuskan untuk mengunjungi salah satu tempat ikonik di San Francisco yang paling ramai dikunjungi wisatatawan.

Melewati jalan tol yang menghubungkan kedua tempat, yang bernama ‘San Francisco-Oakland Bay Bridge’, dimana jembatan tersebut terdiri dari dua tingkat, dimana setiap tingkat digunakan untuk jalur berbeda arah.

Indah, bersih dan modern, pikirku. Kota ini merupakan campuran dari kota dermaga dan gedung pencakar langit yang modern. Disinilah tempat munculnya merk celana paling terkenal seantaero jagad: Levi Strauss, atau populer disebut Levi’s. Sempat mampir ke downtown area, saya tidak menyangka bahwa San Francisco begitu canggih, tidak seperti yang saya lihat sekarang ini. Gedung tinggi, Football Stadium, restoran, hingga bandara udara internasional terdapat disini. Sepanjang pengalaman saya bertualang, San Francisco layak disamakan dengan New York City, hanya bedanya, San Francisco terlihat lebih bersih.

DSC00852
San Francisco Bay Area, salah satu sudut kota San Francisco.

Tempat pertama yang saya singgahi ketika itu “The Fisherman’s Wharf”. The Fisherman’s Wharf bertempat di dermaga disekitar pinggiran kota San Francisco, atau “Pier 39” orang lokal menyebutnya. Awalnya saya tidak menyangka bahwa lokasi ini begitu ‘iconic’ bagi warga lokal. Tidak heran, karena Lokasi ini menjadi tempat kunjungan wisata para turis, karena menyimpan beberapa cerita.

Di area inilah terdapat salah satu, atau beberapa (?) kapal-kapal perang yang dahulu kala digunakan ketika perang dunia I berlangsung.

Alcatraz

Icon lain yang membuat populer di kawasan ini adalah terdapatnya penjara paling terkenal diseluruh dunia, Alcatraz. Tempat ini dulunya merupakan sebuah tempat tahanan bagi para pelaku kriminal kelas berat pada era tahun 1920-an. Untuk mengunjungi tempat ini biasanya kita bisa melakukan perjalanan sendiri, atau mengikuti tour yang disediakan oleh pemerintah setempat. Cukup membayar 20 USD, anda bisa mengikuti perjalanan ke area penjara terkenal ini.

Tidak lupa pula, melalui area ini anda bisa melihat Jembatan ‘Golden Gate Bridge’ yang terkenal dari sini.

Fisherman Wharf.

DSC00859
Pintu masuk lokasi Fisherman’s Wharf, San Francisco

Ketika tiba, waktu masih menunjukan pukul 9 pagi, masih terlalu dini bagi restoran untuk buka. Maka, saya menyempatkan diri untuk menikmati Caffe Late di kedai kopi terdekat. Jajanan di area ini sungguh bervariasi. Namun yang paling populer adalah jajanan seafoodnya yang berbahan dasar kepiting. Kepiting ini merupakan hasil tangkapan nelayan lokal yang biasanya melaut setiap musim ikan atau komoditi. Ada yang melaut ketika musim ikan tuna, kepiting atau bahkan kerang.

clam chowder
Clam Chowder

Jajanan ini biasa disebut “Clam Chowder”; semacam cream soup yang berbahan utama kentang dan kerang. Rasanya nikmat, dan sedikit asin. Beberapa restoran di lokasi ini membuat masakan ini berdasarkan gaya masing-masing. Ada yang menambahkan daging kepiting, atau ikan, bahkan jagung. Harga satu porsinya rata-rata sekitar 25 USD sampai 30 USD, lumayan mahal bila anda menikmatinya di restoran mewah. Tapi, biasanya ada beberapa tempat yang menyedikan masakan sejenis yang berlokasi di area food court, dan harganya relatif lebih murah. Food court atau jajan dipinggir jalan yang menjadi alternatif saya.

DSC00857
Berpose bersama pedagang Seafood lokal di Bay Area.

Oh ya, dan jangan lupakan kepiting rebus lokal khas San Francisco. Ukurannya terbilan lumayan, sehingga untuk menghabiskan satu porsi saja saya pikir sudah kenyang. Cara memasak kepiting ini normalnya direbus didalam air garam, dan disajikan polos. Jenis makanan ini memang ditujukan untuk cemilan ringan. Ada pula yang digoreng, dan ditemani kentang goreng dan saus, sehingga jenisnya mirip seperti perkedel. Semuanya enak, tergantung jenis mana yang anda suka. Penyajian yang paling saya suka adalah ketika daging kepiting disatukan dengan mayonaise dan roti kadet, serta dicampur saus cream dicampur sayiran dan resep racikan tradisional mereka.
Capcussss rasanya!

crab_san francisco

Luar biasa sensasinya. Tapi hati-hati terhadap kolesterol anda bila terlalu banyak menyantap daging kepiting, ok. Bisa bisa asam urat anda langsumg naik, dan kaki langsung pegal rasanya.

DSC00867
B.A.R.T (Bay Area Rapid Transport) Moda transportasi utama di San Francisco Bay Area .

Setelah menikmati semangkuk cream soup of clam chowder, saya segera berkeliling di area sekitar. Terlihat beberapa transportasi umum lalu lalang. Transportasi umum yang terkenal disini disebut dengan B.A.R.T, atau orang biasa menyebutnya ‘Bart”. Adalah kepanjangan dari ‘Bay Area Rapid Transit’, yang dari namanya bisa ditebak; menghubungkan beberapa area di wilayah pesisir. Bentuknya seperti bus kuno zaman dulu yang tampak sudah berusia puluhan tahun. Kereta ini bertenaga listrik, sehingga lebih tepat disebut Trem. Berbeda dengan konsep moda transport umum di kota lain, nampaknya pemerintah lokal ingin mempertahankan konsepe ‘Heritage’, untuk menarik minat turis dan menjaga tradisi lokal.

DSC00873
Tempat penampungan sementara Anjing laut

Tidak jauh dari tempat jajanan, saya mendatangi lokasi lain yang terbilang unik. Mengapa unik? karena disini terdapat tempat beristirahatnya para Anjing laut yang biasanya muncul untuk berjemur dan beristirahat. Pemerintah setempat menyediakan tempat khusus, semacam dermaga kecil terapung yang terbuat dari kayu berukuran 25 meter persegi, sehingga anjing laut bisa beristirahat ditempat ini. Dermaga kecil ini berjumlah kurang lebih 20 buah, sehingga bisa anda bayangkan betapa banyaknya jumlah populasi anjing laut di lokasi ini.

DSC00875

Tidak terasa waktu sudah semakin sore, dan besok pagi saya harus segera melanjtukan perjalnan ke Dsineyland di kota Los Angeles, California. Setelah itu, saya harus kembali ke kota tempat kerja saya berada, Portland, Oregon.

Maka saya memutuskan untuk segera pulang dan menghabiskan waktu dengan keluarga untuk makan malam bersama, karena kesempatan untuk berkunjung kesini sangat jarang dikarenakan jadwal yang lumayan padat.

Itulah salah satu pengalaman di San Francisco. Teringat lagu yang dipopulerkan oleh Tony Bennet, “I Left My Heart In San Francisco”, adalah benar adanya. Tempat ini akan selalu berada di hati saya karena keindahan alam dan ketenangannya.

Di artikel lain, akan saya ceritakan pengalaman saya ketika berkunjung ke Golden Gate Bridge dan China town di San Francisco, Amerika Serikat.

Salam Petualang dan sukses selalu semuanya. Semoga bermanfaat.

Batam Island, The Hidden character of Indonesia.

DSCN1276

Kota Batam, merupakan bagian dari provinsi Kepulauan Riau, dimana Tanjung Pinang dan Tanjung Balai Karimun termasuk didalamnya juga.

Pada awalnya, kepulauan ini merupakan proyek percontohan penerintah sebagai “role model” pembangunan kepualuan di Indonesia nantinya.

Tidak heran, bila Batam tidak memiliki suku asli. Kebanyakan dari mereka adalah pendatang dari berbagai etnis;

Berlokasi hanya setengah jam dari singapura dengan mengendarai kapal Feri, aroma Singapura tentunya sedikit terasa bagi saya, terutama bila anda datang ke Batam pada akhir pekan. Banyak turis melancong dari Singapura menuju Batam pada akhir pekan. Saya sering berbincang dengan para pelancong, menanyakan maksud kedatangan mereka, pada umumnya mereka menjawab ” Foods and shopping”.

Betul sekali, bila anda berkunjung ke Batam, keindahan panorama serta makanan khas dari berbagai daerah di nusantara maupun luar negeri sangat mengundang selera anda. Jangan lupakan kunjungan anda ke distrik Nagoya, bila anda ingin berbelanja tas, pakaian atau sekedar berbagi oleh-oleh.

Tidak hanya itu, Batam dipenuhi oleh berbagai suku dari berbagai budaya, sehingga kurang pas rasanya bila anda tidak menikmati santapan khas Pulau Batam yang saya rasa sangat lezat, kaya rasa serta bervariasi jenisnya.

Dari mulai masakan khas Nusantara seperti Masakan Padang, Masakan Manado, Masakan khas Batak dan Tapanuli, Masakan Medan dan Betawi, sampai masakan Khas negeri Gujarat, India ada disini. Semua akhirnya bergantung kepada kemampuan perut anda untuk menampungnya. Dan yang paling penting, rasa masakan disini otentik dan murah. Rasanya Otentik, karena dimasak oleh ahli masak yang datang labgsung dari daerah makanan itu berasal. Tidak ada sedikit bumbu pun yang dikurangi.

Berikut ini salah satu jenis makanan dan lokasi tempat makan yang wajib anda coba dan kunjungi di Batam:

1. Siput Gonggong.

image

Siput gonggong mentah

Merupakan jenis makanan khas Batam yang tidak akan anda jumpai selain disini. Berbentuk seperti layaknya siput, berwarna putih dan hidup di dasar laut jernih. Siput ini biasa dimasak dengan cara direbus dengan air garam dan dicampur sedikit bawang putih.

Dihidangkan bersama saus sambal, cabe rawit dan kecap asin, sungguh merupakan sensasi tersendiri bagi saya. Kebanyakan orang menikmati sajian ini dengan minuman bir dingin. Nikmatnya sungguh terasa.

Lokasi: Foodcourt ‘Lovely’ Desi Mall, Foodcourt ‘A1’ Jodoh.

2. Mie Pangsit

image

Penampilannya seperti Mie kering khas cina, dengan bumbu dan rempah khusus, merupakan ciri tersendiri dari mie ini. Dihidangkan dengan semangkuk kuah dan baso ikan, mie ini cocok dinikmati pada pagi hari sebagai sarapan. Mengapa saya menyebutnya “Mie Piayu”? karena resto mie ini terletak di tempat jajan Pasar Tradisional Tanjung Piayu.
Bagi saya, cita rasa mie ini lengkap. mulai dari aroma minyak ikan yang khas, dipadu dengan kelembutan mie nya yang terasa menyatu dengan aroma taburan ayam.

Lokasi: Tanjung Piayu.

3. Sup Ikan Batam.

Kuahnya bening, terasa betul rasa kaldu ikannya. Bahan utama sup ini terbuat dari ikan tenggiri, dan tentu saja di Pulau Batam ini, jenis ikan laut seperti ini banyak dijumpai. Dipadukan dengan baso ikan buatan sendiri, dan bisa anda santap dengan nasi dan Jus Naga, akan membuat anda ketagihan untuk terus menikmatinya.
Lokasi: Pasar Nagoya, Pasar Aviari.

4. Ketupat Padang Bengkong.

Pertama, tidak banyak hal istimewa bila melihat tempat uda ini berjualan. Hanya sedikit tulisan dan gerobak sederhana didepannya. Setelah anda mencicipi Ketupat ini, anda akan mengerti kenapa warung ini penuh setiap paginya.

Adalah kuah karinya yang khas, yang membuat anda menyukai masakan ini. Rasanya gurih, pedas, dan sedikit terasa manis, namun tidak terasa asin, terasa pas di lidah. Saya sendiri sanggup menghabiskan dua porsi ketupat ini. Bila anda nikmati sebagai sarapan pagi bersama bakwan yang tersedia disana, terasa pas bila disajikan bersama teh pahit khas kepulauan Riau. Pedoooo..rasanya!
Lokasi: Bengkong.

5. Epok-epok.

image

Tampak seperti kue kering yang terbuat dari campuran tepung terigu biasa. Isinya beragam, mulai dari kari ayam, ikan tuna dan talas. Rasanya? hmm, silahkan anda coba sendiri. Karena, bagi saya, ini adalah salah satu kudapan terbaik yang pernah saya coba. Disajikan hangat, dengan harga 2500 rupiah saja per butir, membuat anda ketagihan untuk mencobanya lagi…lagi…dan lagi.

Lokasi: Pasar Penuin.

6. Mie Tarempa’k.

image

Nama mie ini diambil dari Pulau Tarempa, Kepulauan Riau, dimana mie ini berasal. Penyajian mie ini terbagi kedalam 3 macam; basah, lembab dan kering. Mie ini dibuat sendiri, dan menggunakan adonan khusus, sehingga rasanya pun sedikit unik, dan bentuknya agak lain daripada kebanyakan mie lain yang tersedia di pasar.

Ada yang sedikit berbeda dari mie ini. Kuahnya yang berwarna kemerahan, tampak seperti kuah kari padang, namun begitu dicoba, rasanya tidak pedas. Harga satu porsi mie ini berkisar 10 ribu hingga 15 ribu rupiah. Pas bagi kantong anda yang ingin mencicipi hidangan mie dengan cita rasa aduhai.
Lokasi: Batam Center.

7. Nasi Ayam.

Sensasi menu ini sungguh unik. Sedikit berbeda dengan masakan sejenis lainnya, rasa ayam yang disajikan sedikit manis dan teksturnya lembut. Dengan sambal khas yang terasa sedikit asam dan pedas, menu ini layak dicoba bila anda mampir ke Batam.

Lokasi: Pasar Avava

8. Soto Medan Ibu De.
Lokasi: Batam Center

9. Luti Gendang.
Lokasi: Batam Center.

10. Kopi’O.

image

Layaknya kopi hitam biasa. Namun jangan salah, biji kopi nya khusus hanya bisa dijumpai di Kepulauan Riau. Uniknya, cangkir kopinya terbuat dari keramik khusus, dan harus direndam dulu didalam air yang mendidih, sehingga bila anda rasa, cangkir nya pun terasa sedikit panas. Tersedia dalam dua pilihan, yaitu: Kopi hitam dan Kopi susu.

Bisa dijumpai di kedai kopi foodcourt atau pasar Batam pada umumnya.

11. Bubur Ikan.
Bubur ikan khas Hongkong atau Cantonesse. Rasanya gurih dan lezat, tekaturnya lembut namun tidak encer. Dihidangkan bersama phitan atau telur asin, ditambah sedikit cakue atau bawang daun, ketika menyantapnya, rasanya seperti anda belum makan selama sstu bulan! Bisa saya habiskna satu mangkuk setengah, hanya untuk menyantap bubur ini.

Lokasi: Foodcourt Indorasa, Nagoya.

12. Roti Parata.

Merupakan makana khas India. Adonannya murip dengan martabak asin yang sering kita jumpai, hanya sedikit lembut teksturnya. Dimasak dalam sebuah wajan datar, dan digoreng hingga berwarna coklat tua. Roti ini bisa disantap dengan beberapa opsi pendamping. Yang paling populer biasanya disantap dengan kari kambing. Hmmmm..sungguh lezato rasanyo!!

Lokasi: Nagoya.

Keindahan pulau Batam sungguh terasa, ketika dulu tempat itu menjadi daerah otorita, dimana memiliki kewenangan khusus dalam mengatur segala regulasi dan penduduknya.

Saat ini, Batam merupakan salah satu tempat bermukimnya para perusahaan industri asing. Dan kehidupan maritim di kepulauan itu pun masih aktif hingga saat ini.

Bila anda memiliki waktu luang lebih, sempatkan diri anda untuk singgah ke Barelang, sebuah tempat dimana dulunya terdapat bekas kamp pengungsian Vietnam tahun 1960-an.

Bagi saya, tempat ini memiliki aura mistis yang tinggi, agak menyeramkam dan ‘sangit’. Cocok bagi anda yang hobi akan sejarah. Disana terdapat pula Kuil Ibadah umat Budha, yang sampai saat ini masih digunakan.

Lokasi Belanja

Selain makanan, Batam pun dikenal dengan barang barang import yang bisa didapat di ‘pasar seken’.
Disini tidak jarang pula banyak dijumpai pasar-pasar seken yang menjual barang bekas elektronik maupun fashion.

Bagi anda penggemar elektronik dan gadget, Batam merupakan pilihan utama untuk berburu gadget second yang jarang dijumpai di kota lain. Mengapa? Karena Batam merupakan tempat persinggahan barangbdan kargo antar negara. Disinilah kargo-kargo antar negara dibongkar muat.

Tidak heran bila anda beruntung, akan menemukan gadget atau produk elektronik unik yang biasanya dijual di toko dengan kualitas eksport.

Untuk hal ini, pasar Aviari Batu Aji wajib anda singgahi.

Pasar Puja Bahari.

Berlokasi di distrik Nagoya, pasar ini menjual berbagai produk segar dari mulai Ikan, ayam dan sayuran. Setiap subuh, barang yang datang selalu dalam keadaan segar. Pilihan produk yang menjadi komoditas lokal mudah anda temui di kawasan ini.

image

Selain itu, anda berminat ke Singapura, cukup dengan membawa paspor dan mengendarai kapal feri, anda akan tiba disana dalam waktu 30 menit.

Maka tidak heran, bila kualitas barang yang dijual di Batam, pada umumnya hampir mirip dengan barang dijual di Singapura.

Jembatan BarelangLokasi perbelanjaan Nagoya.

Ayo, kita ke Batam!

Halo Sydney!

SAMSUNG 1273Australia, salah satu negara yang sejak dulu ingin saya kunjungi. Dengan segala pesonanya, negeri ini menjadi incaran para wisatawan di seluruh dunia.

Setelah sekian lama merantau, akhirnya impian itu terwujud. Tiba kesempatan saya untuk mengunjungi bahkan tinggal untuk di Negeri Kanguru tersebut.

Satu per satu pakaian telah saya masukkan kedalam travel bag. Kami bersiap berangkat menuju Newcastle, Australia, untuk keperluan studi sang istri tercinta; mengikuti salah satu pelatihan di kota kecil tersebut. saya pikir ini kesempatan yang jarang saya dapatkan, dan tidak boleh dilewatkan. Naluri petualang saya langsung bergejolak, hingga saya rela meminta izin dari pekerjaan saya, meskipun mendapat izin tanpa bayaran sekalipun.

Kami berangkat sekitar pukul 6 pagi waktu Adelaide, dan tiba di Sydney pukul 8.25 pagi waktu setempat. Karena perbedsan waktu antara Sydney dan Adelaide berbeda 1 jam, maka kami pun harus menyesuaikan jam kami dengan waktu setempat. Berangkat keesokan harinya dengan menggunakan maskapai penerbangan ‘Virgin Australia’ dari Adelaide menuju Sydney, kami akan menempuh perjalanan sekitar 3 jam dengan menggunakan kereta api antar kota yang bernama ‘interlink’.

Setiba di Sydney kami masih memiliki banyak waktu untuk berangkat menuju Newcastle. Maka kami pun tidak membuang waktu untuk segera berkeliling di Sydney untuk melihat tuiuan wisata mereka yang terkenal diantaranya ‘Sydney Opera House’ (disingkat SOP untuk selanjutnya), “Sydney Harbour Bridge” dan Museum lilin Madame Tussaud. Perjalanan dari bandara menuju opera house bisa ditempuh melalui sarana transportasi umum diantaranya kereta api, dimana kami harus membayar AUD 16 untuk menuju Opera House yang berada sekitar 15 menit dari bandara.

Ini merupakan pengalaman pertama kami di Sydney. Alhasil, kami pun harus sering bertanya dan melihat peta agar tidak tersesat. sebagai informasi, biaya hidup di Sydney terbilang relatif cukup mahal bila dibandingkan dengan biaya hidup kami di tempat lain, terutama di South Australia.
SOP terletak di dekat daerah pusat kota Sydney yang bernama ‘Circular Quay’. Daerah tersebut merupakan daerah wisata yang terletak di kawasan dermaga kota. Di daerah sana terdapat objek wisata lain yang salah satunya disebut ‘Sydney Harbour Bridge’.

Cuaca pada waktu kami tiba bisa dikatakan panas sehingga tidak jarang kami sering merasa kehausan karena kami harus berjalan keliling ‘bay area’ yang lumayan luas. Tidak melewatkan kesempatan, kami segera berfoto untuk kenang-kenangan setelah tiba di Sydney Opera House.

Tidak jauh dari lokasi itu, terdapat juga objek wisata Museum “Madame Tussaud”. Museum “Madame Tussaud” merupakan museum patung lilin para tokoh dan aktor yang terkenal. Uniknya, patung-patung yang dipamerkan bentuknya sangatlah mirip dengan aslinya, sehingga kita bisa berfoto dengan patung tersebut, seolah kita sedang berdampingan dengan objek seungguhan. Tentunya, setiap museum di kota lain memiliki karakter yang berbeda. Sehingga saya tidak pernah bosan untuk mengunjungi semua Museum “Madame Tussaud” yang berada di kota lain.

Cukup berjalan kaki dari Sydney Opera House, kami sampai di Museum tersebut dalam waktu kurang lebih 20 menit. Dengan membayar tiket masuk sebesar 55 AUD per orang, setara kurang lebih 530 ribu rupiah, kami segera memasuki area museum.

IMG_0559
Museum Madame Tussaud, dipenuhi patung lilin para tokoh terkenal.

Setelah puas kami berkeliling akhirnya tidak lupa kami mampir sejenak untuk menikmati makan siang. Smartphone pun segera saya gunakan untuk melihat peta dimana restoran yang menyajikan masakan khas Indonesia, karena dirasa kami sudah lama ingin mencicipi aroma khas makanan tradisional yang dibilang cukup populer di Australia, dan beberapa rekan menyebut Sydney merupakan pilihan tepat..

Akhirnya kami pilih Restoran Padang ‘Putra Buyung’ yang berada di distrik ‘Anzac Parade’. Beruntung rasanya saya memiliki ‘smartphone’ yang saya gunakan sekarang. Selain praktis, fungsinya sangat beragam dan akurat dalam membaca peta (maaf bukan promosi nih). Entah bagaimana nasib saya disini tanpa dibantu alat ini, mungkin saya sudah sering tersesat.

Akhirnya kami memutuskan untuk menumpang bis guna menuju restoran yang telah kami rencanakan. Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit akhirnya kami tiba dan tidak begitu sulit bagi kami untuk menemukan restoran tersetbut. Dari luar, restoran tampak normal seperti toko restoran lainnya di distrik tersebut. Sedikit ornamen gambar rumah khas minang menarik perhatian kami, sehingga mudah dikenali.

SAMSUNG 1279

Rasa dan masakan yang disajikan oleh restoran tersebut dirasa pas dan sesuai dengan apa yang kami rasakan ketika menikmati masakan khas Minang di Indonesia, layak direkomendasikan bagi saya.
Areal restoran berada di distrik yang cukup sibuk, sehingga tidak heran bila banyak pengunjung yang datang ke restoran itu, terutama orang Indonesia. Sepertinya memang restoran ini sudah dikenal luas oleh para penduduk lokal. Setelah puas menikmati hidangan khas Minang, kami pun segera memutuskan untuk mengunjungi Pasar tradisional yang sangat terkenal di Sydney, bernama “Paddy’s Market”.