ALMAN NAUFAL SWEETJAZZ DEBUT ON MLD FOUNTAIN JAZZ IN BANDUNG INDONESIA!

[BANDUNG, INDONESIA] Clear and windy evening in capital city of West Java must be a good time to go out to a park and spend the evening with friends or lovers. Kiara Artha Park, the whole new thematic park with a beautiful fountain in it, is open for public, and always packed with peoples. Here in this park, on 25th September 2019, a newly debuted group Alman Naufal Sweetjazz showcasing their music on MLD FOUNTAIN JAZZ. This event will be held monthly, so next month, you could see the performed band on 16th October 2019.
Alman Naufal Sweetjazz brings us a soft and a charming concept of jazz music along with an entertaining performance and a good vibe, which they had showed in its music arrangements and selected tunes. This group consists of, Alman Naufal (drums), Hera (vocal), Yopi (piano), and Kanggep (bass). You could see the clip of their appearence here (https://www.youtube.com/watch?v=-C01U00-UQc) [AN Highlight])
Advertisements

Mari Berdansa Bersama King Of Chaindown

Bandung sebagai embrio musik tanah air. Khususnya musik yang bergerak diranah subkultur sehingga berderetan musisi yang memilih jalur non-mainstream dalam berkarya.
Diantara deretan kelompok musik yang berada dijalur non-mainstream ini adalah King Of Chaindown sebuah band yang mengaku beraliran Rock n Roll vintage 60’s 70’s. Tampil garang dengan memasukan unsur Brass Section kedalam karya-karya mereka, King Of Chaindown (KOC) yang digawangi oleh Kolenank – Gitar, Dicky Wood – Bass, Angga Mike – Vokal, Irwan – Trumpet, Hamdan – Trombon dan dibantu beberapa additional player.
Dibentuk di Bandung 12 Juni 2005 lalu KOC dengan musiknya ingin mengajak pendengarnya untuk berdansa. Dipengaruhi oleh beberapa musisi kawakan dunia seperti Chuck Berry, Bob Dylan, Elvis Presley, Muddy Water, Rolling Stones, Led Zeppelin dan Stray Cats, KOC berusaha untuk membuat imej mereka sendiri tanpa harus menjadi idola mereka yang telah mempengaruhi mereka.
Dengan keinginan menginterpretasikan ide dan menjadi bagian dari blantika musik nasional, maka pada 2018 lalu dibawah label NEVERSTOP Records terbitlah It’s Rockin’ Time.
Album yang diterbitkan secara digital ini terdiri dari lima track yang mereka ciptakan sendiri yaitu Kebebasan, Make Luv, Mr. Boogie, Gadis Malam, Ratu Dansa yang bisa disimak di gerai-gerai digital seperti Joox, Spotify dan lainnya.

joox_fb_share-e1565623148632.jpg

index

Akbar Savio, satu diantara seribu


img-20190719-wa00311678065819.jpg

Dari 18133 cahaya bintang di Citeureup, ada satu cahaya bintang yang bersinar unik dan menarik perhatian. Akbar Savio adalah musisi dari sekian musisi asal Bogor yang tengah bersinar dengan terangnya, menularkan semangat dan hasrat musiknya dalam karya-karyanya yang membuat rasa nyaman dan jujur. Beberapa waktu lalu Akbar melepas single bertajuk Home, satu karya yang ditulisnya bersama Damar yang mengisahkan kerinduan seorang Damar terhadap kampung halaman beserta romantika dan dinamika didalamnya, karya ini bisa dinikmati dikanal resmi YouTube Akbar. Bon Iver adalah kugiran panutan seorang Akbar dan semoga suatu saat akan dapat berkolaborasi dalam berkreasi atau sekedar jamming diatas panggung, semoga!.maxresdefault
Ada satu keunikan lagi, kalau pada masa lampau ternyata Akbar ini adalah seorang pencabik bass dari sebuah kugiran pemuja RHCP. Dan sebagai seorang pemimpi ulung Akbar yang bekerja reguler di lembaga sosial, dan saat ini masih menjalankan radio streaming bersama teman temannya di Bogor bermimpi memiliki album rekaman yang bukan sekedar album pengisi rak koleksi, bisa tampil dihadapan publik yang lebih besar, dan punya keluarga yang hidup dengan baik dan bahagia. Aamiiin


KEEP ON ROCKIN’ IN THE FREE WORLD, BUDDY!

INDOFEST 2017 of Adelaide, The Showcase of Indonesian Heritages.

Indonesian Festival is essential to Indonesian community of Modern Australians in Adelaide, South Australia and INDOFEST centre’s role as a leader in Indonesian Festival engagement in South Australia. This year’s festival features outstanding opportunities for connection and education of Indonesian cultural heritage to Australians.

In Adelaide, South Australia, INDOFEST has become an essentials community event, along together with other community events from other countries, including “Moon Lantern Parade”, “Southeast Asia’s premier arts conference”, Borak Art Series and Jaipur Literature Festival. With the continuing growth one of the important festival in Adelaide, INDOFEST has more mature in matter of showcasing Indonesian Cultures in one pot through festival. From its inception in 2007, this is a festival that continues to attract critical accalim across local, national and international communities in Adelaide.  

INDOFEST is a festival for everyone; Every Indonesian Community in Adelaide became a parts of this event.

 

 

Donasi Para WNI & WNA Adelaide Bagi Korban Gempa Palu & Lombok.

Oktober 2018. Indonesia kembali berduka. Beberapa wilayah di Kepulauan Sulawesi khsusnya Palu & Pulau Lombok, tengah dilanda bencana gempa dahsyat dan menimbulkan lebih dari 2000 korban jiwa serta kerugian harta benda yang tidak terhitung jumlahnya.

Hati nurani yang tergerak untuk membantu para korban pun banyak muncul dari berbagai kalangan serta wilayah, tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri. Munculnya ide dan gagasan serta keinginan para Warga Negara Indonesia serta penduduk lokal Australia untuk membantu para korban gempa di Palu & Lombok pun hadir dari para Warga di Adelaide, South Australia.

Respon WNI Adelaide yang positif.

Para organisasi non-profit yang berada di Adelaide, South Australia, langsung melakukan Indonesia penggalangan dana secara masif dan sukarela. Sebut saja organisasi keagamaan di Adelaide seperti MIIAS, KIA, Himpunan Gereja Adelaide, hingga kelompok Budaya seperti Balinese Society, PARBASA hingga organisasi Kemahasiswaan Indonesia PPIA SA serta Organisas lokal Australia di Adelaide pun tidak ketinggalan melakukan penggalangan dana. Sungguh respon positif yang sangat luar biasa.

Khusus penggalangan dana kali ini, kegiatannya di-inisiasi oleh AIASA. Sebagai informasi, AIASA merupakan singkatan dari “Australian Indonesian Association of South Australia”; sebuah organisasi non profit yang anggotanya terdiri dari para lokal serta WNI yang berada di Adelaide, South Australia. Mereka mengadakan ide penggalangan dana untuk para korban gempa di Palu & Lombok yang terbilang unik dan berbeda.

Melalui rapat para komite AIASA yang diketuai oleh Ibu Firda Firdaus, terlahir ide untuk mengadakan penggalangan dana melalui sebuah konser musik dari berbagai lapisan seniman Indonesia dan Australia di Adelaide, South Australia.

Mengapa melalui musik? “Karena musik merupakan salah satu bahasa universal yang tidak memiliki batasan. Maka dari itu melalui musik serta talenta yang dimiliki oleh para WNI dan lokal di Adelaide, kita bisa berkontribusi untuk membantu saudara kita yang tertimpa musibah” seperti yang diungkapkan para Anggota Komite AIASA.

Akhirnya melalui rapat Komite AIASA, diputuskan untuk menggelar acara penggalangan dana tersebut pada tanggal 6 Oktober 2018, dan ditunjuk Barry Luqman sebagai Event Coordinator. Untuk event ini, Nexus Art Building dipilih sebagai tempat acara. Sementara itu beberapa anggota Komite AIASA seperti Ibu Firda, Abby Witts and Brett Callis bertugas dalam pengurusan izin serta inspeksi gedung yang akan digunakan untuk acara ini.

Acara penggalangan dana kali ini terbilang kompak dan solid, karena melibatkan dan menggandeng beberapa Organisasi Non Profit lainnya seperti INDOPEDULI yang dikoordinir oleh Ibu Nuraeni, DIASPORA SA yang dipimpin oleh Ibu Rini Budiyanti dan Bpk. Adrian Wiguna sebagai Ketua Umum DIASPORA AUSTRALIA, serta Komunitas Musik Rhythmnesia serta Group tari Dewi Robot untuk bekerjasama di acara ini.

Pada acara ini, tiket masuk yang dijual akan diberikan untuk sumbangan bagi para korban gempa. Respon yang didapat pun sangat positif dan tidak membutuhkan waktu lama untuk disebar. Berbagai sumbangan serta donasi berupa uang dan barang pun berdatangan dengan cepat. Para sponsor memberikan dukungan berupa voucher serta doorprize dan Raffle Tickets.

Jumlah Sumbangan & Penyaluran Donasi.

Sumbangan yang terkumpul berjumlah kurang lebih 10.000 AUD. Jumlah ini terbilang fantastis, mengingat waktu persiapan yang tergolong singkat. Sumbangan umumnya berasal dari para WNI dan WNA yang berada di Adelaide; termasuk para sponsor yng telah memberikan sumbangsihnya dalam kegiatan ini. Adalah salah satunya Restoran Indonesia “Pondok Daun” yang menyiapkan konsumsi makanan bagi para partisipan acara serta bantuan dari para sponsor lain seperti Toko Bakulan, MONSA Cargo, “STP Tax Professional” yang secara khusus menyumbangkan dana sebesar 700 AUD pada kegiatan ini. Produk Michael Hill serta Seacliff Beach Hotel dan Batik House ikut pula terlibata pada kegiatan ini.

Dana yang terkumpul dibagikan melalui beberapa lembaga serta organisasi kemanusiaan d Indonesia yang dipercaya serta bertanggung jawab menyalurkan bantuan kepada para Korban.

Diharapkan, kegiatan serupa akan terus diadakan dengan berbagai tujuan yang positif lainnya, agar kita dapat sama-sama membantu serta meringankan beban saudara kita yang membutuhkan pertolongan dimana saja.

Salam Persatuan 🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇦🇺🇦🇺🇦🇺

[BSJB EP. 2] Fun and Entertaining, Good and Romantic Memories on Bumi Sangkuriang Jazz N Blues – Valentine Special!

[BANDUNG, 2019.02.20] February, the typical month of love is a nice moment for us to show our affection to the one we care. The same goes for Bumi Sangkuring Jazz N Blues who held a theme called ‘Valentine Special’, has given a thrilling set of show along with a romantic atmosphere.

Billy Saxo/Azis Saxsoul and Nissan Fortz are the guests star for its second episode of BSJB. After more than a decade experiences on showbiz, Billy Saxo is having a lot of tricks under his sleeves. A theatrical interactive performances and a romantic and jazz setlist has greatly entertain the audiences. The man who can do both of a mainstream jazz tunes like ‘Caravan’ and a sweet voice of ‘Come With Me’ has gave us a dynamics performances on stage alongside with the host’s band.

And then, the notch of the show is presented by Nissan Fortz ft. Alman Naufal Project. Upon successfully producing 2 albums ‘Day by Day’ and ‘Tarik Menarik’, the vocalist and guitarist is back with his new tunes called ‘Kisah’. The song expresses love deeply into its journey of pure love and mutual comprehension. On his Comeback Stage last night, he’s played the music greatly attractive in collaboration with Alman Naufal Project, where there are a lot of spectacles and interplays during their performances and the ‘Wayout Song’ has become the cloture piece of the show.     

Brief, the duo of a sweet saxophonist and the full of fondness song-writer have been giving a warm vibe with theirs appearences on a Ballroom of BP Bumi Sangkuriang.

Before that, Jhom Lemmon who’s played rock ‘n roll music also performing on the Debut Stage. Yoga Ogoy and The Reefer Wild in this chance was spelling a romantic tunes for all of us.   

For furthermore info visit: @alman_naufal (Instagram), AN Entertainment ID (YouTube). Bumi Sangkuriang Jazz N Blues will be back with more of an interesting and your favorite artist and doorprize. Until next month!

Bumi Sangkuriang Jazz N Blues is a monthly Indonesian music show held on the Ballroom of the National’s cultural heritage, BP. Bumi Sangkuriang. Its premier episode settled on 2019, January 16th. The show is the first and currently the only Jazz and Blues music spectacle with doorprize and variety concept. The Host of Bumi Sangkuriang Jazz N Blues is Alman Naufal and this show also aired on AN Entertainment’s YouTube channel as its first regular content.    

AN INDONESIAN JAZZ DRUMMER MADE A SOLO DEBUT IN BRUNEI DARUSSALAM WITH A SPECIAL SUNDANESE CULTURE DRUMS PERFORMANCES

Image 01: Alman Naufal with Mr. Ambassador (Dr. Sujatmiko, MA) and Mr. Minister Counsellor (Ahimsa Soekartono) at Embassy of the Republic of Indonesia at Bandar Seri Begawan.

BANDAR SERI BEGAWAN (December 23rd, 2018). In his first series of ‘Asia Tour’, Alman has visited the capital of Brunei Darussalam to promote Indonesia’s culture, and his upcoming debut solo album. Carrying the style of contemporary jazz, this man has shown his ability of drums soloing with a touch of traditional sundanese melodies from an instrument called ‘Saron’ that played simultaneously with modern rhythms.

Image 02: Alman was playing an unique contemporary music with drums (modern rhythm) and saron (indonesian traditional instrument)

By playing a various modern rhythms on the drums and a traditional melodies on saron, Alman has successfully harmonised the swing, jazz and afro-cuban rhythms with the sundanese traditional pelog melodies.  This combination of modern and traditional
instruments and tradition giving a great result of an attractive contemporary ethnic music.

IELTS Test Dengan Sistem Komputerisasi

Bahasa Inggris merupakan salah satu persyaratan penting yang harus dipenuhi bagi para calon pekerja, Mahasiswa atau bahkan calon permanent resident yang akan datang atau menetap di luar negeri. Ujian ini diterapkan agar nantinya para calong pendatang dipastikan bisa berkomuniksasi dengan baik dalam bahasa Inggris. Namun demikian, standar nilai yang diterapkan untuk ujian Bahasa Inggris ini bervariasi, tergantung dari jenis visa, lingkup studi atau pekerjaan yang diminati. Selain itu, tidak banyak informasi mengenai detail pelaksanaan Ujian Bahasa Inggris ini, terlebih sekarang ini Ujian sudah dilakukan dengan sistem komputerisasi atau biasa disebut paperless based test.

Masih banyak orang di Indonesia yang sedikit bertanya-tanya, ketika ditanya mengenai ujian Bahasa Inggris untuk keperluan studi luar negeri, baik itu proses pendaftaran maupun tata cara pelaksanaannya. Beruntung saya memiliki pengalaman beberapa kali melakukan ujian Bahasa Inggris berbasis IELTS, dan akan penulis share beberapa point penting mengenai hal ini.

IELTS test, seperti kita ketahui, pada umumnya terbagi kepada dua kategori; General & Academic test. Keduanya terbagi kepada empat jenis ujian atau test: Listening, Reading, Writing & Speaking test. Test ini merupakan sebuah ujian standar bahasa inggris yang diselenggarakan oleh sebuah lembaga bahasa inggris resmi yang berada di UK, bernama British Council. Di Indonesia atau negara lainnya, lembaga pendidikan yang menyelenggarakan IELTS Test ini adalah IDPhttps://www.idp.com/australia/?gclid=CjwKCAiA9K3gBRA4EiwACEhFe1IsJG1CApdUMDTk6fV66yejm0eZ1-23gr4QZxJ_D465fIftQaf18xoCVl8QAvD_BwE&gclsrc=aw.ds

Ujian ini ditujukan untuk menilai kemampuan berbahasa inggris para kandidat, baik itu calon karyawan, pelajar maupun mahasiswa. Hasil ujian ini akan dikategorikan dalam bentuk angka; dari 3 sampai 9. Semakin tinggi nilai yang diperoleh, maka kemampuan bahasa inggris individu boleh dibilang semakin baik.

Ujian Bahasa Inggris pada umumnya banyak dilakukan oleh para calon mahasiswa atau pelajar yang akan melakukan studi di luar negeri. Meskipun demikian, ujian bahasa ini sering juga dilakukan oleh para kandidat pekerja atau tujuan lainnya. Sedikit informasi, ujian bahasa inggris ini terbagi kedalam dua nama atau merk, dan kedua jenis ujian (TOEFL & IELTS), dikategorikan berdasarkan lokasi wilayah yang akan dituju. Bagi anda yang berminat untuk datang menetap atau studi ke wilayah Amerika Serikat & Canada, pada umumnya kedua wilayah ini menggunakan sistem ujian bahasa inggris berstandar TOEFL. Sedangkan bagi anda yang akan datang bekerja atau belajar di wilayah Eropa dan Australia, pada umumnya mereka menggunakan sistem penilaian bahasa inggris berstandar IELTS.

General Test ditujukan bagi para pengguna bahasa inggris umum untuk keperluan standar, sedangkan Academic Test ditujukan bagi para calon pelajar atau mahasiswa yang akan kuliah atau sekolah tinggi. Sebetulnya kedua jenis ujian ini pada dasarnya menggunakan pertanyaan yang sama, yang berbeda adalah ketika anda melakukan ujian reading dan writing pada test IELTS ini. Untuk ujian Academic, jenis pertanyaannya cenderung lebih tertuju kepada hal-hal yang berbau ilmiah. 

Tentunya saya anggap para pembaca sudah banyak mengetahui informasi mengenai detail informasi tentang masing-masing test yang diajukan pada ujian ini. Bila dulu kita melakukan ujian dengan menggunakan kertas dan pena, Sekarang ini pada umumnya ujian IELTS di luar negeri sudah menggunakan sistem ujian berbasis komputer alias tidak lagi menggunakan kertas dan pena.

Baru-baru ini penulis mengalami pengalaman unik mengenai ujian IELTS berbasis komputer. Pada awalnya saya sedikit ragu dan khawatir akan tata cara melakukan ujian ini dengan komputer. Maklum, biasanya kita sudah terbiasa melakukan kegiatan ini in old fashioned way alias cara lama (pakai kertas & pensil).

Click & Type method.

Pada dasarnya, metode komputerisasi pada IELTS Test sekarang ini terhitung mudah, terutama bagi anda yang sudah terbiasa mengoperasikan komputer. Kita tinggal mengikuti instruksi yang diberikan pengawas ketika ujian akan dimulai. Halaman per halaman bisa dilakukan dengan mengklik mouse, sesuai instruksi pengawas ujian. 

Seperti biasa, ujian dimulai ketika semua peserta sudah melewati tahap verifikasi identifikasi sesuai prosedur, dan semua peserta sudah duduk berada dalam ruangan ujian dan siap didepan komputer yang telah ditentukan. Ujian dimulai berdasarkan urutan jenis ujian; dimulai dari listening, reading, writing dan speaking test.

Pada sesi ‘listening test’, kita memulai ujian dengan mengklik tanda ‘start’ pada layar komputer, dan kita akan mendengar sejumlah percakapan yang berisi jawaban yang harus diisi pada kolom pertanyaan pada ‘listening test’. Caranya cukup mengetik atau mengklik pilihan jawaban dari listening test. Hal yang sama pun berlaku untuk jenis test lainnya seperti Reading, dan Writing. 

Pada saat kita melakukan sesi ‘Writing test’, perbedaan mendasar hanyalah terletak pada penggunaan media komputer untuk menulis. Kalau pada sistem paper based, kita menggunakan pensil dan kertas untuk menulis ide kita dari soal yang diberikan, maka pada sistem computer based, kita menggunakan keyboard untuk mengetik ide kita.

Semoga tips dan informasi ini bermanfaat bagi para teman-teman yang akan melakukan ujian Bahasa Inggris IELTS, tetap semangat dan sukses selalu.

“Queen & Adam Lambert in Concert” Adelaide, South Australia. Pembuktian musisi legendaris

Group musik legendaris asal Inggris, “Queen” benar-benar membuktikan bahwa mereka adalah icon musik legenda sepanjang masa. Meskipun usia personil group band ini sudah tidak muda lagi, mereka masih sanggup eksis dengan melakukan Tour di beberapa kota Australia dan New Zealand baru-baru ini.

Sangat beruntung saya memiliki kesempatan untuk bisa menyaksikan penampilan salah satu group musik favorit. Terlebih, setelah kematian sang vokalis, Freddie Mercury, otomatis hingar bingar group ini terkesan mati di dunia hiburan sejak lama.

Kini mereka kembali melakukan tour dan konser di beberapa negara. Salah satu kota yang dijadikan tempat diadakannya konser mereka adalah Adelaide, South Australia pada tanggal 27 & 28 Februari 2018.

Kali ini mereka tidak sendirian. Setelah kematian sang vokalis utama Freddie Mercury, otomatis mereka kehilangan punggawa sekaligus salah satu icon group band legendaris tersebut. Setelah sekian lama tampil dengan beberapa vokalis additional seperti George Michael, Elton John, dan Paul George, akhirnya mereka memilih Adam Lambert untuk tampil mengisi posisi vokal dalam konser kali ini.

Bertajuk “Queen & Adam Lambert Concert”, konser kali ini menyuguhkan unsur teatrikal yang sangat energik dan spektakular. Dengan Kisaran harga tiket mulai dari 100 AUD (1 juta rupiah), hingga 1000 AUD (10 Juta rupiah), tiket terjual habis jauh hari sebelum konser dimulai.


20180228_193639

Berlokasi di Adelaide Entertainment Centre, sejak pukul 5 sore, pintu sudah mulai dibuka dan terlihat para penggemar yang umumnya berasal dari generasi ‘jadul’, bercampur denga beberapa penggemar dari kawula muda. Antusiasme penonton terlihat tinggi begitu memasuk lobby utama, area tersebut langsung padat, padahal waktu konser masih terbilang cukup lama untuk dimulai.

Adelaide Entertainment Centre ini sanggup menampung kapasitas penonton sampai 5000 orang, dan semua kursi diberi nomer tempat duduk untuk memudahkan pengaturan penonton yang hadir. Ketika mulai memasuki arena konser, kebetulan saya bersama teman-teman mendapat posisi tempat duduk persis di sebelah panggung timur, sehingga kami dapat melihat langsung Brian May yang kebetulan berada diposisi ini.

Dalam sekejap, arena utama konser sudah penuh oleh para penggemar. Tidak lama, konser dibuka dengan gelegar sound system yang dahsyat. Ketika lampu padam, tampak layar menutupi panggung, dan seiring suara gemuruh laksana guntur menggema, layar tersebut perlahan naik keatas disambut applause penonton.

Dibuka dengan lagu “Hammer to Fall’, dan diiringi beberapa urutan lagu hits mereka seperti “Fat Bottom Lady”, “Bohemian Rhapsody” dan “Love of My Life”, sukses memuaskan dahaga para penggemar yang telah lama menantikan kehadiran mereka untuk tampil lagi secara langsung.

Sayatan gitar Brian May yang telah berusia 70 tahun, tidak memperlihatkan kekurangan sama sekali, meski usianya tidak muda lagi. Saat melakukan solo gitar, terdengar petikan gitarnya sangat berisi dan berenergi. Pada posisi drum, Robert Taylor tampil cemerlang dengan stamina yang luar biasa hebat untuk usianya yang tergolong sudah sepuh dan tidak pernah kehilangan tempo sedetik pun. Petikan Bass John Deacon pun tidak berkurang, sound dan energinya hampir sama seperti kita dengar dalam rekaman kaset.


Ditengah acara, ditampilkan video Freddie Mercury bernyanyi solo di layar panggung, disambung dengan melodi gitar Brian May, membuat emosi penonton sedikit tersentuh melihat Freddie tampil lagi ditengah panggung dan disambut tepuk tangan penonton.

Ditutup dengan lagu “We Will Rock You” dan “We Are The Champion”, menutup sekaligus menandai suksesnya rangkaian konser mereka di tahun 2018 ini di Australia. Terimakasih Queen dan Adam Lambert yang telah memenuhi kerinduan kami para penggemar.

Semoga kita akan bertemu di konser berikutnya dengan komposisi personil yang masih lengkap tentunya.

God Save The Queen.