The Serenade of Bandung

Berbicara tentang kebudayaan suatu daerah seperti Jawa Barat khususnya Bandung baiknya kita mengenal dua bentuk kelompok besar dari suatu kebudayaan yaitu Kebudayaan Modern dan kebudayaan klasik .

Kebudayaan Modern yang ada di Jawa Barat sangat dinamis sifatnya itu tidak lepas dari ‘influence’ beberapa kota besar di Jawa Barat dan sebagai poros sentral perkembanganya adalah kota Bandung.

Bandung sebagai ibu kota Jawa Barat, sangat berperan aktif memberikan kontribusi kebudayaan modern mulai dari Musik, Tari hingga fashion yang tidak hanya Jawa Barat, tapi daerah-daerah lainnya seperti Sumatera Selatan, Lampung, Sumatera Barat, Jawa tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, Kalimanan dan Sulawesi serta Irian Jaya secara trend, pada umumnya banyak berkiblat kepada trend yang sedang terjadi di Kota Bandung.

Salahsatu event udaya yang digelar di Kota Bandung, Jawa Barat. Masih tereksan sederhana dan apa adanya. Bandingkan dengan konser-konser musik kontemporer/modern yang umumnya bernuansa megah serta mahal.

Melihat trend budaya ini memang tidak lepas dari Bandung, karena Kota ini terletak tidak jauh dari ibu kota Jakarta sehingga secara media, informasi dan dukungan bisa sangat cepat diakses dari Bandung. Sebenarnya banyak kota-kota lain yang potensial secara trend sebut saja Jogjakarta, Bali, Padang, Makassar. Tapi dikarenakan Bandung selalu memberikan influence secara aktif, maka Bandung lebih banyak berperan menelurkan ide kreatif, bisnis kreatif dan budaya kreatif lainya.

Namun sebaliknya, dalam budaya klasik, Bandung tidak menjadi sentral bagi perkembangan budaya klasik. Malahan, Bandung sebagai ibu kota Jawa Barat tersaingi oleh kota-kota lainya seperti Purwakarta, Banten, Cirebon, Sumedang, Tasikmalaya, Bogor dan beberapa kota di Jawa Barat lainya. Hal ini bisa dilihat dengan sepinya suatu pentas dan animo budaya tradisional/klasik di kota Bandung.

Penggiat seni di Kota Bandung sepertinya lebih tergugah dengan konsep modernisasi, dimana para anak muda milenial lebih akrab dengan set DJ ataupun music Band, ketimbang alunan kecapi suling dan hentakan kendang. Hal inilah yang sedang ditata oleh masyrakat urban sendiri salah satunya pemerintah kota Bandung yang dari hari ke hari mencari format budaya klasik yang enak dipresentasikan dan bisa menjadi ‘influence’ bagi masayarakat muda dan menjadi sumber APBD bagi kota Bandung.

Bandung yang sepi sekali dengan konsep dan nilai budaya klasik kalah jauh dengan purwakarta yang berbenah dengan konsep Sunda Buhun dan kearifan lokal lainya. Ini mungkin dikarenakan cara pandang dari pemimpin masing-masing kota Bandung dan Purwakarta yang masing-masing punya nilai dan visi yang berbedada dalam menentukan kearifan lokal dan budaya local di kota mereka masing-masing.

Penggambaran kota Bandung yang dulu ramai dengan budaya klasik seperti era 80-an kala wali kota H. Ateng Wahyudi membuat suatu terobosan-terobosan budaya dengan mengangkat kembali dan modernisasi tembang-tembang sunda dan akhirnya terlahirlah lagu-lagu trend sunda pada masa itu seperti “kalangkang” yang waktu itu sangat populer.

Susah-susah gampang membuat suatu terobosan kebudayaan klasik di Bandung, dikarenakan banyak hal yang penulis pernah alami sendiri diantaranya adalah pengkotakan budaya .

Apa itu pengkotakan budaya, yang dimaksud penulis? dalam pengkotakkan budaya di kota Bandung, adalah “kesenjangan” dari para pilar-pilar seni yang akhirnya mereka jarang untuk bersama dalam berkumpul, berbicara, tukar pendapat dan mendirikan lebih banyak padepokan seni layaknya di Bali atau kota kunjungan wisata lainya.

Seniman di Bandung lebih personal kalaupun ada yang bergabung lebih cenderung karena adanya ‘event’ dan tujuan bersama dalam industri selain dari itu mungkin jarang sekali terlihat kolaburasi maestro seni klasik di kota Bandung apalagi setelah beberapa legenda seni klasik di kota Bandung tutup usia.

Keadaan inilah yang harus ditata secepatnya oleh semua kalangan pecinta budaya dan seni di kota Bandung agar kembali era-era keemasan pupuh, hariring, wayang dan budaya klasik lainya bisa kembali menjadi sektor budaya yang bisa dinikmati di kota Bandung tidak hanya Angklung saja.

Modern boleh,maju kedepan adalah keharusan dan teknologi mutlak harus dikuasai, tapi ingat banyak sekali nilai dan kearifan lokal yang jauh nilainya bila kita bandingkan dengan teknologi yang ada. Beberapa kearifan lokal yang sudah terlahir ratusan tahun yang lalu inilah yang sebenarnya menajdi karakter dan harta karun kita sebagai Bangsa yang bermartabat.

Mari kita jaga gerbang karakter kita sebagai bangsa yang bernilai dan berdaulat, gerbang itu lah yang disebut BUDAYA.

Penulis: Indra “Epenk” Setiyadi.

Penulis, event planner, designer dan Band Writter.

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s