Semaraknya “Indomusic Night 2017” di Adelaide, South Australia.

Gelaran event “Indomusic Night 2017” telah berjalan untuk tahun yang kedua. Hampir semua elemen musik bergabung dalam kegiatan seni tahunan ini. Meskipun tidak semua musisi terlibat, namun setidaknya suksesnya perhelatan Seni Musik di Adelaide, South Australia, mulai menampakkan gairahnya.

Dengan membludaknya jumlah pengunjung yang datang, menandakan bahwa antusias para pecinta seni musik di Adelaide, SA, sungguh masih kuat. Jumlah tiket yang terjual menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan bila dibandingkan tahun sebelumnya, dimana event ini digelar untuk pertamakalinya.

Event ini berada didalam naungan sebuah organisasi yang bernama “AIA” (Australian-Indonesian Association), merupakan sebuah organisasi gabungan yang beranggotakan resident lokal beserta para WNI yang berada di Adelaide, SA.

Seperti konsep awal, event ini dimaksudkan sebagai salah satu kegiatan apresiasi seni musik dari para penggiat seni di Adelaide, South Australia, sekaligus diagendakan sebagai salah satu rangkaian acara “Road to Indofest”. Dalam kegiatan ini, seluruh elemen yang memiliki bakat dan minat dalam seni, dipersilahkan serta diundang untuk mengapresiasikan kemampuan terbaiknya dalam bermusik, sekaligus meramaikan acara yang mulanya hanya digelar sebagai “ajang percobaan”.

Gagasan & Konsep

Awal mulanya, ide ini muncul dari obrolan ringan diantara salah seorang penggiat seni di Adelaide, South Australia, Barry Luqman dan Arief Febrianto, untuk mengadakan sebuah event yang khusus mengedepankan fokusnya dalam kegiatan seni musik, melihat situasi pagelaran musik dan seni di Adelaide yang tengah lesu saat itu, mereka menggagas sebuah ide yang tujuannya untuk menghidupkan gairah komunitas seni musik di Adelaide, South Australia.

Konsep acara ini diadakan bukan tanpa alasan. Karena Adelaide sungguh dipenuhi oleh bakat-bakat seni serta talenta yang luar biasa dalam karya seni. Khususnya para WNI yang bermukim di Adelaide, mereka memiliki kemampuan yang patut diacungi jempol dalam bidang kesenian.

Untuk ukuran popularitas kota dan jumlah penduduk, Adelaide boleh dibilang masih kalah dibandingkan dengan kota lain di Australia seperti Sydney, Melbourne atau Queensland. Tapi, bila digali lebih dalam, di Adelaide ternyata banyak tersimpan bakat-bakat hebat dalam seni, baik itu dalam bidang musik, tari atau bahkan seni rupa.

Berdasarkan latar belakang tadi, terlintas sebuah ide dan konsep diperlukannya sebuah wadah kegiatan yang bisa menampung seluruh apresiasi seniman musik Indonesia yang berada di Adelaide. Meskipun Adelaide telah memiliki sebuah kegiatan seni yang lebih luas cakupannya, dengan nama “Indofest”, namun “Indomusic Night” ini memiliki visi dan misi yang lebih terfokus kepada pengembangan kebudayaan seni musik dan vokal saja.

Kegiatan ini pun digagas dengan maksud menggabungkan para musisi lokal (Australian) maupun seniman Indonesia yang bermukim di Adelaide, South Australia. Dengan seiring waktu, antusias Komunitas Seni Indonesia di Adelaide pada perhelatan “Indomusic Night 2016” sebelumnya, sungguh mengejutkan.

Optimis dan Solid.

Untuk perhelatan event “Indomusic Night” tahun 2017 kali ini dikonsep dari nol. Berawal dari Arief Febrianto, selaku salah satu penggiat seni, dan juga terlibat dalam kegiatan Komunitas Indonesia-Australia, berdiskusi dengan para penggiat seni lainnya, Barry Luqman, untuk mengadakan event yang sama untuk tahun 2017.

Pada awalnya, Arief Febrianto menyatakan bahwa event ini sudah mulai diagendakan oleh AIA chapter SA untuk menjadi event tahunan, dan menanyakan kesanggupan Barry sebagai Music & Project Coordinator, untuk mengelola event tahun 2017 ini dari nol.

Sesuai riset, optimis dan sedikit pesimisme, maka team sepakat & menyanggupi untuk menggelar event ini, dengan syarat harus dengan konsep yang berbeda tentunya. Untuk memperkuat sistem manajemen, maka ditunjuklah Julie sebagai kontributor serta Event Manager.

Riset menunjukkan bahwa pagelaran tahun lalu sukses digelar, dengan patokan membludaknya jumlah pengunjung serta tiket yang ludes terjual. Ini menunjukkan bahwa antusias komunitas Indonesia akan pagelaran Seni Musik di Adelaide, sangat tinggi.

Optimis, karena Adelaide sungguh dipenuhi oleh talenta dan bakat seni yang bisa dibilang luar biasa, dan dirasa mampu untuk memenuhi segala kebutuhan akan sebuah pagelaran seni yang dibilang spektakuler atau layak bagi komunitas lokal Indonesia di Adelaide yang terbilang kecil cakupannya.

Namun tentunya, pagelaran event ini masih menemui beberapa kendala, diantaranya jadwal libur musim dingin yang mengakibatkan sebagian warga banyak yang berlibur ke tanah air, serta tanggal pagelaran yang berdekatan dengan Hari Raya Iedul Fitri, diman banyak para WNI yang mudik’ ke tanah air untuk merayakannya bersama keluarga dan kerabat.

Tahun ’80.

Berdasarkan kesepakatan, maka Barry memutuskan untuk mengadakan event tahun ini dengan konsep “Eighties”. Selain konsep serta atmosfir yang unik, tentunya banyak kerinduan akan suasana musik tahun ’80 an yang tentunya akan sangat dinanti oleh banyak orang. Bayangkan, hampir 37 tahun sudah era tersebut berlalu, dan beberapa lagu era itu masih sangat erat di memori kita.

“Job Desk” mulai dibagi sesuai bidang masing-masing. Arief Febrianto & Marina Arief bertugas menangani sponsor, venue, lighting & sound system, serta mengatur stall makanan.

Mirza Ariadi berperan khusus pada hari-H, yang bertugas sebagai “Stage Manager”; mengatur lalu lintas sinyal audio di panggung selama acara berlangsung. Julie bertugas dan bertanggung jawab untuk memilih materi rangkaian acara serta komposisi MC, serta mengatur kelengkapan acara seperti Quiz, MC dan “Best Costumes” award. Barry Luqman bertanggung jawab dalam pemilihan materi, dan aransemen lagu, serta komposisi musisi yang akan terlibat.

Tidak lupa para pihak yang terlibat partisipan lain, termasuk Ibu Ivonne turut membantu dalam penjualan tiket serta memberikan input-input lain yang sangat membantu kelancaran pagelaran acara ini.

Khusus untuk pemilihan partisipan ini, sesuai konsep awal, bahwa kebersamaan sangatlah dikedepankan guna meningkatkan tali persaudaraan antara resident, lokal serta student yang bermukim, sekaligus memperkuat persatuan seniman lokal dan Indonesia di Adelaide.

Tentunya, penentuan materi dan komposisi musisi tidaklah semudah apa yang dituangkan dalam kertas. Pada kenyataannya, banyak kendala yang siap menghadang, diantaranya adalah jadwal individu yang super padat. Perlu diketahui, bahwa semua partisipan yang terlibat memiliki jadwal yang padat, terlebih di Australia yang penduduknya dikenal ‘workaholic’. Meskipun pada dasarnya mereka adalah musisi, namun tentunya masing-masing individu memiliki bidang pekerjaan lain yang mengisi aktivitas harian mereka.

Para Partisipan & Pendukung Acara.

Melalui beberapa pertimbangan, banyak kandidat tentunya yang bisa dipilih untuk menggawangi posisi kruisal sebagai ‘Master of Ceremony’, pada keputusan akhir, maka diajaklah Mrs, Ina Kusumaningrum untuk berduet dengan Mr. Daniel Micklem, yang merupakan salah seorang Australian Resident yang berprofesi sebagai pengajar Bahasa Indonesia disalah satu “College” di Adelaide, SA.

Ovie Harnando, Azwar & Joe Arpin on stage (Photo Credit: Michael M.P)

Dalam komposisi musisi serta vokalis, pasukan ini diisi oleh punggawa-punggawa yang dibilang sungguh matang dalam bermusik. Posisi Drum diisi oleh Daniel Dermawan, yang merupakan penggiat seni di Gereja Bethel & Rizky P. Setiadji, yang merupakan ‘spouse’ dari seorang ‘Phd candidate’ di UniAdelaide. Untuk posisi Bassist dipercayakan kepada Mr. Joe Arpin, yang telah malang melintang dalam dunia musik selama hampir 30 tahun dan Mirza Ariadi, salah seorang musisi kawakan yang telah lama tinggal di Adelaide, SA.

Rinno, Jeremy Mooy & Andre Manalu. (Photo Credit: Michael. M.P)

Dalam hal memetik gitar, team mempercayakan posisi ini kepada Azwar AR, yang prestasi beliau dalam bidang musik sudah diakui di Australia; salah satunya ia keluar sebagai juara ke-3 dalam kontes Gitar “Ibanez Flying Finger 2017” yang baru-baru ini diadakan di Australia. Untuk Keyboardist, posisi ini diisi oleh Barry Luqman, serta Syafii Achmad yang menggawangi perkusi.

 

Dalam mengisi posisi vokal, talenta-talenta berbakat lain turut mengisi ‘line-up’ ini. Irene Mc.Cormack, yang merupakan putri sulung dari seorang maestro Keroncong dan pasangan seniman senior Mus Mulyadi & Helen Sparingga, bekerjasama dengan Kiki Magdalena, dimana sebelumnya Kiki pernah berkecimpung di dunia tarik suara di Melbourne dan Indonesia. Dibantu oleh Ovie Harnando, dan Taliyah; yang merupakan talenta muda yang memiliki bakat terpendam yang ditemukan oleh Komunitas Seni Indonesia.

Irene Mc.Cormack (Photo Credit: Michael M.P)

Kiki Magdalena & Azwar A.R on Performance (Photo Credit: Michael M.P)

Tidak ketinggalan, Rinno, Rikardo Simatupang, Jeremy Mooy dan Andre Manalu mengisi posisi vokalis pria. Rinno yang sebelumnya tinggal di Bandung, pernah menggeluti dunia tarik suara secara otodidak selama lebih dari 10 tahun hingga kini. Rikardo Simatupang, merupakan musisi tulen yang pernah tinggal lama di Bali yang hobi membawakan lagu-lagu rock. Jeremy Mooy sendiri merupakan seorang penggiat seni yang aktif di kalangan Gereja Adelaide, SA. Sedangkan Andre Manalu merupakan seorang student yang pernah berkecimpung di bidang wedding enterntainment, dan tengah mengambil studi Master di Adelaide saat ini.

Ricardo Simatupang, Azwar & Mirza on stage (Photo Credit: Henry M.p)

Sebagian Musisi yang turut berpartisipasi dalam “Indomusic Night 2017”.

(Kiri/kanan: Azwar, Rizky, Barry, Daniel).

Fariz RM.

Selama persiapan berlangsung, sempat beredar kabar gembira, dimana seorang artis papan atas pada era ’80an, Fariz RM, akan hadir untuk memeriahkan acara ini, namun sayang kedatangannya harus dibatalkan karena jadwal yang berbenturan satu sama lain.

Namun demikian, masih banyak musisi lokal lain yang batal membantu pagelaran event ini, dikarenakan padatnya jadwal serta waktu latihan yang sangat terbatas. Diharapkan, mereka yang urung mengisi acara di tahun ini, dapat berpartisipasi di acara berikutnya.

Dengan komposisi yang ada, banyak ditemukan kendala, diantaranya jadwal latihan yang terbatas. Bisa dibayangkan, untuk membawakan materi sebanyak 15 lagu, para partisipan hanya memiliki jadwal berlatih 3 kali saja secara bersamaan, tentunya hal ini sungguh menguras energi serta membutuhkan ekstra fokus agar bisa meminimalisasi kekurangan.

Photo Credit: Michael M.P
Photo Credit: Michael M.P
Photo Credit: Michael M.P

Namun syukur sesuai perkiraan dan harapan, komposisi ini bisa dibilang kompak serta mampu mencairkan suasana panggung dengan solid serta membawa atmosfir yang bisa dibilang sesuai dengan tema serta lagu yang akan dibawakan.

Duet MC; Ina Kusumaningrum & Daniel Micklem (tengah), bersama kontestan ‘Kostum Terbaik’; Sandy Feutril dan Toto Sudibyo.

Sebagai musisi pendukung lainnya, dilibatkan sebuah Band yang berisikan musisi lokal Australia yang juga digawangi oleh vokalis yang berasal dari Indonesia. Band ini diberi nama “Time Tunnel”. Beranggotakan Frank (Guitar), Carlo (Guitar), Michael (Bass), Anthony (Drum), serta Lady Handayani yang bertindak sebagai Vokalis, dimana kebetulan ia (Lady, red-) merupakan istri dari Mr. Yudi, pemilik usaha “Monsa Cargo” di Adelaide, SA. Kelompok ini apik membawakan musik-musik “Retro Rock” yang mampu memenuhi dahaga para pencinta musik ’80 an di event “Indomusic Night” tahun ini.

“Time Tunnel” in Action

Untuk memeriahkan suasana, Julie beserta team bersepakat untuk melibatkan beberapa personil dari komunitas tari Indonesia di Adelaide dalam acara ini. Untuk komposisi Dancer, diisi oleh, Mrs. Merry Kartini, Mrs. Iluh Supadmi, Mrs. Ninin Davis, Mrs. Dessy Seftyaningsih dan Mrs. Juliana Luqman sendiri.

Sesi “Fashion Show”.

Sungguh, Adelaide sangat beruntung memiliki talenta-talenta dengan kapasitas yang boleh dibilang sejajar dengan kualitas seniman profesional di tanah air.

Persiapan menjelang pertunjukan

Sponsor & Pendukung Acara lain.

Tidak lupa, selain para musisi, Acara tahun ini juga dibantu oleh beberapa pihak lokal yang turut berpartisipasi mensponsori acara tahun ini. Sebut saja “Bakulan” Indonesian Grocery, “Pondok Daun” Indonesian Restaurant, “Bakmi Lim”, “Success Tax Professional” yang dipimpin oleh Andy “Bing” Asiandy, serta bantuan informasi yang disampaikan oleh rekan-rekan penyiar di Radio Indonesia Adelaide melalui Bpk. Tufel Musyadad & Ibu Roswita, turut andil dan berkontribusi dalam berlangsungnya acara ini.

Stall makanan yang didukung oleh Ibu Rina K. Nugroho, yang menyajikan masakan khas Nusantara & ‘Dapur Younie Becker’ yang menyediakan makanan khas jajanan pasar Tradisional Indonesia, turut memeriahkan acara dan membantu suksesnya event “Indomusic Night 2017” di Adelaide, South Australia.

Tidak lupa untuk seksi dokumentasi, team sangat berterimakasih kepada Mr. Henry Michael Pattie, yang turut membantu melalui hasil jepretan dan dokumentasi videonya.

Rangkaian Acara.

Secara keseluruhan, rangkain acara bisa dibilang sukses dalam membawa audiens kedalam suasana tahun ’80. Dengan kostum serta pernak-pernik yang unik, acara dibuka langsung oleh ketua AIA, Mrs. Firda Firdaus. Lagu-lagu yang ditampilkan berasal dari berbagai genre; dari rock hingga keroncong & dangdut yang dipopulerkan pada era ’80an.

Untuk sesi break’, event tahun ini diisi oleh kegiatan ‘Fashion Show’ yang menampilkan koleksi busana winter “Tanti Lovell collection”, dilanjutkan dengan sesi “Best Costumes Awards”, dimana terpilih Sandy Feutril sebagai pemenang kostum terbaik malam itu, mengalahkan 5 kontestan lain, diantarnya Graham Dawson & Toto Sudibyo yang masuk sebagai nominasi.

 

wp-image-463147979Para Dancer yang turut memeriahkan acara “Indomusic Night 2017).

Seluruh rangkaian acara dibuka oleh lagu dangdut “Penasaran”, dan ditutup dengan lagu “Can’t take My Eyes Off You” yang dinyanyikan oleh seluruh pengisi acara. Lagu akhir ini memberi pesan bahwa “Indomusic Night” akan selalu hadir dan tidak melepaskan pandangan dari para pencinta seni di Adelaide, dan seluruh panitia tentunya sangat berterimakasih kepada seluruh partisipan yang terlibat, termasuk para audiences yang telah merelakan waktu, tenaga & energi untuk datang memeriahkan acara ini.

Secara keseluruhan, acungan jempol layak diberikan kepada seluruh pendukung acara dari Komunitas Indonesia dan PPiA SA, atas kekompakan serta totalitas yang telah diberikan selama persiapan hingga berlangsungnya acara “Indomusic Night 2017”.

Yang paling penting, salut kepada Team Musisi yang telah bergabung dan bersatu, sejak tampilnya “I-Band” di ajang “Indofest 2013”, serta group “Rhythmnesia” di ajang “Cancer Council” Charity pada tahun 2017, menjadikan Adelaide sebagai State pertama di Australia yang memiliki “Indonesian Band” secara resmi, dimana seluruh personilnya diisi oleh Musisi Indonesia yang berada di Adelaide, Bravo!

Sampai bertemu di Acara “Indomusic Night” tahun berikutnya dengan konsep yang berbeda yang lebih meriah. Mari kita terus dukung perkembangan kegiatan seni Indonesia di Australia.

— Salam budaya dan mari kita tetap jaga kebersamaan dan persatuan —

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s