“El-Musafeer”, Sentuhan Spiritual Melalui Instrumen Rebana di Adelaide.

Musik merupakan salah satu alat terapi yang paling ampuh untuk mengatasi berbagai permasalahan, penyakit serta krisis. Pembentukan sebuah kegiatan atau komunitas sosial; baik itu yang dilandasi dan dilatarbelakangi oleh golongan, keyakinan, atau minat yang sama, pada akhirnya semuanya bertuju kepada sebuah pencapaian utama mereka, yaitu Persatuan.

Suka atau tidak, kehadiran seni dan hobi tanpa disadari sangat berperan penting dalam mewujudkan persatuan dan ukhuwah antar ummat sekarang ini. Berbagai polemik dan anggapan tentunya muncul dari gagasan ini, dan itu merupakan hal biasa, dimana perbedaan pendapat selalu muncul dalam bersosialisasi. Dalam kegiatan keagamaan sekalipun, akan selalu muncul sebuah gagasan kegiatan berupa seni, baik itu dalam bentuk, lagu, syair, suara ataupun gambar dan kaligrafi, sebagai bentuk keindahan dan kecintaan individu kepada ‘Sang Khalik’.

Latar Belakang Gagasan Melalui Sebuah Komunitas.

Krisis yang sekarang ini sedang kita hadapi; menjadi salah satu momok bagi persatuan di negeri ini. Berbagai elemen dan para individu serta komunitas Indonesia yang ada diseluruh belahan dunia, termasuk Indoensia, amat sangat menyadari hal tersebut.

Isu politik yang sedang menjadi topik hangat di negara kita ini, secara tidak langsung menunjukkan bahwasanya ikatan sosial antar individu maupun kelompok, dirasa masih sangat kurang, ditambah dengan masuknya berbagai pemahaman baru dalam bersosialisasi, dapat dengan mudah mempengaruhi beberapa elemen dan lapisan masyarakat, apalagi bila diserap tanpa melalui filter yang memadai.

Disinilah dirasa perlu dibentuknya sebuah wadah atau media pemersatu yang sifatnya universal serta menyeluruh, sebuah media yang solid serta transparan untuk dapat menggabungkan semua elemen masyarakat, tanpa memandang dari Suku, Golongan dan Ras manapun. Perlunya pendekatan dengan cara lain selain kegiatan keagamaan, dirasa sangat mempengaruhi pola pikir serta cara pandang sebuah individu. Selain itu, kesenian (apapun itu) merupakan obat pemecah kejenuhan setelah melakukan aktifitas sehari-hari.

Maka Sesuai kesepakatan beberapa anggota sebuah komunitas keagamaan bernama KIA (Kajian Islam Adelaide), pendekatan melalui seni merupakan alternatif lain yang dipilih guna mencapai hal tersebut, selain sebagai sarana pemecah kejenuhan tentunya.

Pemahaman serta Penggolongan Jenis Instrumen yang Seringkali Keliru.

Semua alat musik, tanpa memandang dari negara tersebut berasal, pada hakekatnya adalah sama; menghasilkan bunyi-bunyian yang bisa membentuk sebuah irama atau nada dalam aturan tertentu.

Beberapa orang mungkin masih beranggapan bahwa instrumen musik bisa dikategorikan sebagai sebuah representasi sebuah golongan atau bahkan agama, padahal tidak demikian.

Seperti misalnya Piano, Biola, Harpsicord dan Terompet misalnya, yang awalnya ditemukan oleh kalangan elit Eropa atau Barat, selalu diidentikan dengan musik di Gereja, atau tempat ibadah tertentu, karena memang kebetulan alat musik tersebut memang populer, dan sangat mempengaruhi perkembangan musik di masyarakat barat pada umumnya.

Dari daerah Timur, tentunya banyak juga alat musik yang populer dalam masyarakat mereka, dan biasanya berakar dari budaya kuno sebuah peradaban negara tertentu. Seperti misalnya Sitar, Suling, Mandolin, Tabla, Zen, Gamelan, Kolintang, dan Rebana. Tentunya alat-alat musik tersebut sangat identik dengan budaya Timur yang kental dengan tangga nada serta irama khas mereka masing-masing.

Uniknya, meskipun instrument tersebut kerap digunakan dalam kegiatan keagamaan tertentu, namun alat musik tersebut sering juga digunakan dalam kegiatan non-spiritual; seperti piano atau biola yang tidak hanya digunakan di gereja saja, atau ‘Tabla’, Kendang dan Suling yang tidak hanya digunakan dalam kegiatan agama Islam, Yahudi atau Majuzi saja. Dan mungkin tidak semua orang paham akan hal itu.

Saat ini, Tabla dan kendang identik dengan aliran musik dangdut yang populer dikalangan suku Melayu.

Musik, atau seni boleh kita sebut, dapat merepresentasikan sebuah keindahan atau budaya dalam komunitas tertentu baik itu individu atau masyarakat. Dan beberapa seniman memang menuangkan keindahan tersebut melalui berbagai ide, karya yang bisa dinikmati oleh semua orang.

“El-Musafeer”

Demikian salah satu komunitas di Adelaide, South Australia; “Kajian Islam Adelaide” (KIA), membentuk sebuah representasi budaya Timur Tengah yang awalnya bertujuan untuk memperkenalkan, menyalurkan minat dan bakat dalam bermusik, sekaligus memperkaya unsur budaya di Adelaide, South Australia khususnya. Maka dibentuklah sebuah komunitas musik yang mengusung budaya khas Timur Tengah, dan komunitas tersebut diberi nama “El-Musafeer”.

Seperti yang dikemukakan oleh Suryo Guritno, salah satu penggiat dalam komunitas ini, ide pembentukan komunitas rebana pada mulanya digagas oleh beberapa pihak, diantaranya Bapak Ahmad Uzair, Bapak Sentot, Bapak Eko Susanto, serta Bapak Ahmad Wibisono; yang awalnya mereka merupakan pelajar yang kebetulan menimba ilmu di Adelaide, South Australia.

Berawal dari latar belakang yang sama, pada awalnya kegiatan bermusik ini hanya sekedar mengisi waktu setelah kegiatan komunitas. Namun, belakangan banyaknya masukan dari beberapa anggota yang menyarankan agar dibentuk sebuah kelompok musik yang berfokus kepada pengembangan kebudayaan, dan dipilihlah budaya Aceh yang kental dengan nuansa Timur Tengah sebagai pusat konsentrasi mereka, dan menggunakan alat musik Rebana sebagai instrumen utama.’

‘El-Musafeer’ ketika tampil di acara “Great Morning Tea” for Cancer Council, tahun 2017.

Sebagai bentuk keseriusan mereka, tak lama kemudian, selang beberapa bulan, alat rebana sebanyak 7 set didatangkan dari Indonesia. Pertama kali tampil secara publik di acara parade pembukaan “Indofest 2014”, penampilan mereka cukup menarik perhatian dan memberi warna lain dalam khasanah budaya Indonesia. Serta dipilihlah nama ‘El-Musafeer’ sebagai nama kelompok ini; diambil dari nama ‘Musafir’ (Indonesia, red) dalam bahasa Arab yang artinya Pengelana atau perantau.

Ketika berpartisipasi dalam event “Indofest 2016”.

Kini, kelompok ini berada dibawah koordinasi Bapak Mustapha, Bapak Suryo serta Mas Didik. Dimana dalam Setiap bulan, mereka hampir memiliki jadwal tampil yang padat, dan seringkali dalam penampilannya, kelompok ini dipadukan dengan tarian Rindang Saman dari komunitas Aceh, dan sinergi mereka terlihat kompak serta kuat ketika tampil bersama.

Sedikit berimprovisasi dan lebih melebarkan kategori musiknya, kini El-Musafeer memadukan berbagai unsur lagu dan budaya dari berbagai daerah di Indonesia, diengan membawakan lagu-lagu daerah serta kontemporer yang dipadukan dengan Rebana dan alunan gitar. Sungguh sebuah kolaborasi musik yang unik dan membawa warna baru dalam khazanah budaya di Adelaide.

Berikut salah satu cuplikan penampilan mereka: ‘El-Musafeer’ Performing

Menarik tentunya untuk menyaksikan penampilan mereka, sekaligus nikmati nuansa unik serta eksotik, yang merupakan perpaduan budaya khas Aceh dan Timur Tengah yang mengalun dari musik yang disuguhkan oleh ‘El-Musafeer’.

Salam Budaya, dan tetap semangat, kawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s