Mengunjungi Kerajaan Sihir Amerika di Hollywood.

Kali ini petualangan saya di Amerika Serikat membawa saya ke lokasi yang menjadi salah pusat hiburan dunia; Hollywood. Menjejakkan kaki disana seperti berada di negeri dongeng.

fb_img_1487053864797.jpg


Bagaimana tidak, selama ini harapan untuk bisa menjejakkan kaki di pusat perfilman dunia, bagi saya hanya mimpi belaka. Namun demikian, kesempatan itu akhirnya tiba setelah Tuhan mengizinkan saya untuk menempa pengalaman hidup di Negeri Paman Sam.

Berada di California, kota Los Angeles tepatnya, Hollywood merupakan pusat industri dunia perfilman Amerika. Disinilah semua jenis film diproduksi. Disini pula lah pusat berdirinya perusahaan perfilman dunia seperti ‘Warner Bross’, ‘MGM Mayer’, ‘Dreamworks’, dsb.
Hollywood lebih tepat disebut sebagai sebuah kawasan terpadu industri perfilman. Terdiri dari beberapa kompleks shooting, display area, office hingga wahana wisata Universal Studio yang sangat terkenal, berpusat disini.

Berkunjung ke Los Angeles, tentunya sangat disayangkan bila tidak mampir ke area ini. Universal Studio Hollywood merupakan magnet utama para turis untuk datang ke Los Angeles, selain kawasan lain seperti Santa Monica, San Diego, Rodeo Drive atau Beverly Hills tentunya. Tapi, bila melihat jumlah pengunjung setiap hari, bisa dipastikan kawasan Hollywood selalu penuh.

Akses utama untuk masuk ke kawasan Hollywood dipusatkan melalui Universal Studio. Untuk memasuki kawasan ini kita bisa membeli tiket harian atau bila sedang ada promo, anda bisa membeli tiket untuk 2 hari berturut-turut dengan harga spesial. Harga tiket masuk berkisar 90 USD hinga 130 USD untuk dewasa.

Perjalanan yang saya tempuh melalui darat sekitar 8 jam dari Portland, Oregon menuju San Francisco, ditambah 6 jam lagi menuju Los Angeles. Total perjalanan darat memakan waktu 14 jam hanya untuk satu balikan. Menginjakkan kaki di Los Angeles, udara tropis langsung terasa. Hangat, matahari dan macet menyelimuti kota ini. Kondisi sebaliknya dengan kondisi suhu di kota Portland, negara bagian Oregon. Suasana di Los Angeles rasanya seperti berada di Jakarta, mengingat suhunya yang mirip dan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang. Selain itu, kota ini merupakan destinasi utama para turis dan selebritis dunia yang terbiasa tinggal dikawasan tropis, karena iklimnya yang dirasa cocok.

Ada yang unik saya rasakan ketika berada di ‘Los Angeles Highway’ menuju kawasan Hollywood; dimana saya amati, hampir 8 buah helikopter selalu berada di udara, tampak sibuk dan jarang saya temui hal seperti itu di kota lain di Amerika pada umumnya. Tapi itulah tanda bahwa kota ini memang salah satu pusat metropolitan dunia, dengan segala gemerlap dan kemewahannya, tidak heran bila kota ini menjadi magnet bari para ‘Pemburu Dollar’.

Menyusuri Highway di Los Angeles sendiri nampak harus mengantri, terlebih bila jam kerja, hampir mirip dengan Jakarta saya pikir. Jalanan mulai lenggang ketika kami mulai berpisah menuju Area Hollywood. Tak cukup lama, memasuki pintu gerbang masuk, jalanan kembali padat menuju pos tiket parkir masuk kawasan Hollywood.

Suasana area parkir Universal Studio, Hollywood.

Pos penjagaan tiket parkir tampak seperti pos kebanyakan di Mall, terbuat dari beton dan pintu dijaga oleh palang besi melintang berwarna hijau. Seperti biasa, kami harus membayar tiket masuk mobil berkisar 20 USD per mobil.

Area parkir di kawasan tersebut boleh dibilang sangat luas, terdiri dari beberapa sektor dan dihiasi ornamen-ornamen khas Hollywood; menandakan bahwa kita sudah berada di kawasan ini. Namun demikian, saya pikir lahan parkir yang luas itu pun belum tentu sanggup menampung seluruh pengunjung yang ada pada saat hari libur nasional.

Dekat gerbang masuk, terdapat Ticket Counter yang berada disebelah kiri gerbang. Kami pun membeli tiket harian sebesar 129 USD per orang. Hamparan karpet merah dan gerbang putih bertuliskan Universal Studio Hollywood pun segera menyambut, diiringi oleh musik orkestra khas Film Hollywood turut diperdengarkan melalui speaker, menambah aroma dan kesan kuat akan Karakter Hollywood.

Tidak sabar, penasaran dan excited, semua bercampur jadi satu. Bagaimana tidak, hal yang selama ini hanya saya lihat melalui bioskop dan layar kaca, hampir semuanya nampak didepan mata. Ditambah, melalui brosur-brosur yang saya baca, saya bisa melihat langsung atraksi serta proses berlangsungnya pembuatan film terkenal di kawasan ini.

Area Universal Hollywood ini sangat, sangat luas, berbukit dan bervariasi. Atraksi pun beragam, dari wahana permainan, hiburan, hingga tour dengan shuttle bus ke area shooting Hollywood. Tour inilah yang tentunya saya utamakan sejak awal, dan baru saya bisa menikmati wahana yang ada.

Shuttle Bus Tour

Untuk mengikuti tour ini, saya tidak harus membayar lagi tiket, karena semua sudah termasuk dalam tiket harian/terusan yang sudah saya beli. Saya segera mengambil antrian untuk mendapatkan jadwal bis selanjutnya. Selang 30 menit atau lebih, bis tour datang, dan menurunkan penumpang yang sudah terlebih dahulu naik. Saat bis kosong, barulah saya bisa naik dan mendapatkan tempat duduk.

Bentuk bis sendiri tergolong unik, semi opened dan tidak ditutupi jendela serta pintu. Di depan bis terdapat sebuah TV layar datar berukuran kecil berada disamping pengemudi. Sebelum bis berjalan, tour guide terlebih dahulu menyampaikan kata sambutan dan memutar sedikit informasi tentang aturan selama tour berlangsung dalam video.

Saya melihat pengelolaan kawasan ini sangat profesional. Dari mulai driver, ticketing hingga tour guide, semuanya bekerja maksimal, tanpa raut muka lelah sedikitpun. Padahal, kalau saya bayangkan, berapa ratus ribu orang harus mereka hadapi dan layani setiap harinya, harus disapa bahkan selalu tersenyum. Membutuhkan energi yang ekstra tentunya. Setelah selesai sedikit presentasi, Bis pun mulai perlahan bergerak menuju ke dalam dunia imajinasi yang sesungguhnya.

Atraksi Tour

Seperti biasa, bis tour melewati berbagai macam area perfilman yang sering saya lihat dalam adegan bioskop. Dalam perjalanannya, bis ini melewati hampir 20 area perfilman lebih. Diantaranya melewati scene pembuatan film “Fast & Furious”, “Jaws”, “King kong”, “Back To The Future”, “The Simpsons”, “Terminator”, “SEx & The City” hingga adegan film “The End Of The World” yang dibintangi oleh Tom Cruise. Tidak lupa pula kami melewati taman Jurrasic Park, serta motel yang populer dan sering muncul dalam adegan film misteri “Alfred Hitchkock”.

Selama tour berlangsung, saya betul-betul merasakan atmosfir film yang terjadi, seakan-akan saya sedang berada didalam adegan film itu berlangsung. Ketika melewati reruntuhan pesawat jatuh dalam film “The End of The World”, saya merasakan situasi yang getir dan mengerikan, karena lokasi syuting memang didesain sedemikian rupa hingga kita bisa merasakannya. Luar biasa.

Memasuki area film “Jaws”, kami melewati kolam yang cukup luas, dan tiba-tiba muncul “Bruce” (Nama ikan hiu yang menjadi peran utama di Film Trilogi “Jaws”). Bruce muncul secara tiba-tiba dan menyerempet bagian samping bus tour. Pengunjung pun dibuat terkejut dan tersenyum setelah kemunculan ikan tersebut.

Oh ya, selama tour berlangsung, sang “Tour Guide” pun terus berbicara untuk menjelaskan setiap area yang dikunjungi dan kegiatan yang berlangsung, sehingga kami para pengunjung bisa paham akan apa yang sedang dilakukan para penggiat film tersebut saat bis tour lewat.

Wahana Permainan

Setelah selesai berkeliling dengan Bis Tour, saya pun sedikit beristirahat dan menikmati makan siang sejenak. Sambil melihat peta lokasi, saya sedikit tertegun akan luasnya lahan dan banyaknya wahana permainan yang harus saya coba. Semuanya menarik dan serba canggih. Mulai dari Rumah hantu, bioskop 4 dimensi, roller coaster, hingga “The Simpson” simulator yang memadukan teknologi 3 dimensi dengan kursi bergerak, sehingga kita seakan berada didunia film The Simpson.

Salah satu hal yaang menarik bagi saya, adalah lokasi Rumah Hantu di kawasan ini. Saya sendiri adalah penggemar Film Horror, maka tidak asing bagi saya untuk mengenali karakter-karakter yang ada di lokasi tersebut. Bentuk Rumah hantu sendiri seperti istana yang terbuat dari batu alam berwarna abu-abu, nampak kolot dan kolosal, menambah kesan angker dari luar. Memasuk pintu masuk, kami disuguhi sedikit pameran kolosal akan karakter holloywod yang terkenal dalam genre Horor. Sebut saja Drakulla, Chucky, Zombies, Freddy ‘The Nightmare’, Jason of ‘Friday the 13th’, hingga tokoh Hannibal Lecter dalam film horor ‘Silence of The Lamb’. Kostum sang karakter pun dipajang dan diberi keterngan mengenai bahan dan sejarah dibuatnya kostum tersebut.

Wahana Rumah Hantu ala Hollywood.

Terjebak didalam rumah hantu seorang diri.

Berhubung saya datang ke lokasi Universal Studio seorang diri, otomatis saya pun harus masuk sendirian masuk ke berbagai wahana, termasuk wahana Rumah Hantu. Hollywood memang sangat mahir dalam menyihir penonton untuk merasakan atmosfir film. Terbukti, ketika masuk ke lokasi rumah hantu, kita tidak langsung masuk ke lokasi, melainkan kita disuguhi pemandangan yang lumayan menakutkan dari karakter-karakter horor hollywood, ditambah alunan musik seram yang dibuat khusus. Situasi ini secara tidak sadar membuat saya sedikit bergidik, dan harus menunggu pengunjung lain untuk bersama-sama masuk ke dalam Rumah Hantu tersebut. Hebat.

Salah satu karakter penghuni Rumah Horor di Hollywood.

Uniknya, ketika masuk bersama rombongan lain, saya sempat terpisah karena keasyikan melihat boneka horor yang nampak seperti hidup. Dari mulai adegan munculnya Zombie, Drakula hingga Freddie. Saat tertinggal, sedikit muncul kegugupan saya, dan terus terang, saya agak sedikit ketar-ketir, melihat jalan masih panjang dan gelap. Tidak ada pilihan lain, saya harus terus berjalan. Saya sangat sangat terkejut ketika dalam lorong gelap muncul sosok anak kecil berbaju garis merah putih, datang berlari sambil membawa pisau; ya, itulah Chucky, boneka pembunuh yang muncul dalam film horror “Chucky”. Uniknya ‘Chucky’ yang satu ini nampak hidup, dan bukan boneka melainkan manusia yang didandani mirip dengan boneka tersebut. Sedikit demi sedikit saya mulai maju, dan…berlari!

Pengalaman yang unik saya alami di Rumah Hantu, sehingga saya harus tertawa sendirian karena ketakutan tadi. Ternyata, Chucky’ yang hidup tadi adalah manusia asli, yang diperankan oleh aktor, sehingga nampak hidup. wow!

The Mummy

Salah satu atraksi yang tak kalah menariknya adalah wahana “The Mummy”. Saya pikir, pertama kali saya melihat wahana ini dari luar, itu adalah semacam pertunjukan teater dan rumah hantu seperti yang tadi saya lewatkan. Ternyata salah besar.

Antrian pun cukup panjang, bisa memakan 45 menit untuk bisa mencapai pintu masuk. Ini artinya, wahana tersebut sangat menarik. Dalam antrian, saya melihat adanya titipan barang berupa locker yang bisa dikunci secara pribad, dan harus membayar ekstra, saya berpikir tidak perlu, toh, ini hanya wahana rumah hantu biasa, tidak perlu ada yang harus dititipkan.

Waktu giliran saya pun tiba. Kami disortir berdasarkan tinggi badan dan dipilih sekitar 20 orang untuk masuk ke dalam sebuah ruangan. Ruangan saat itu gelap, dan hanya nampak tempat duduk yang tersususun seperti dalam Bis. Setelah duduk, kami pun harus memasang sabuk pengaman. Saya mulai curiga, karena terus terang, hal yang paling saya benci ketika berkunjung ke Sebuah Wahana permainan adalah Roller Coaster. Tapi rasa kecurigaan saya langsung hilang, ketik lampu dimatikan, dan didepan tempat duduk terdapat layar besar dan langsung menyala. Dalam layar muncul sebuah suara pendeta Atuthkamen” yang seakan sedang berinteraksi dengan saya. Keberadaan Sound System yang akurat, ditambah bau belerang menyengat dan asap yang mengepul, cukup menghipnotis saya seakan berada di dunia Mesir Kuno. Uniknya, ketika adegan semut pemakan bangkai muncul di layar, seketika terasa seperti kawanan semut datang mengelilingi kaki dan pinggang saya! saya pun berteriak karena kaget. SEketika, kursi mulai terasa bergerak, dan betul saja, ternyata pertunjukan utama wahana itu adalah roller coaster yang dirancang secara 4 dimensi.

Gambar didepan layar nampak seperti alur time warp yang bergerak maju, membuat seakan saya bergerak cepat dan menurun seperti nyata. Padahal, yang bergerak sesungguhnya hanya kursi, dan ia tidak bergerak kemana-mana. Namun karena gambar dan pergerakan yang disinkronisasi sedemikian rupa sesuai motion gerakan, maka itu akan nampak menjadi nyata. Sungguh teknologi yang luar biasa.

Shopping & Dining Area

Setelah puas berkelana, akhirnya saatnya saya mengisi perut dan menawar rasa haus. Saya pun segera melihat peta dan menemukan sebuah spot area yang berisi toko merchandise, resoran dan pernak pernik hiasan lainnya ala Hollywood.

Restoran yang tersedia di kawasan ini tergolong unik. Mereka umumnya dihias berdasarkan tema film. akhirnya Saya tertarik untuk mencoba Burger disebuah restoran yang dihias berdasarkan film “Forest Gump”. Semua menu merujuk kepada adegan dan karakter yang terdapat dalam film tersebut. Tidak ketinggalan pula toko cinderamata pun bertebaran, dari mulai toko franchise klub Baseball L.A. Dodger, hingga klub Basket L.A. Lakers. Semua tersedia lengkap.

Singkat kata, sebelum pintu keluar, saya sempat menyaksikan pertunjukkan atraksi air berdasarkan tema film “Waterwold” yang filmnya dibintangi oleh Kevin Costner. Pertunjukan berlangsung selama 30 menit dan berselang setiap 1.5 jam setiap pertunjukannya. Atraksi kejar-kejaran antara Bajak laut dengan sang jagoan pun terjadi, mirip dengan adegan di film.

Itulah pengalaman saya mengunjungi Hollywood, Dunia Sihir perfilman yang sudah berhasil menghipnotis Manusia di Bumi ini. Semoga bermanfaat dan bisa memberi gambaran tentang kondisi kawasan ini.

Salam travellers!

‘Yosemite National Park’, Keindahan Elok Hutan Pinus khas Amerika.

Hutan Pinus nan luas terhampar, udara berkabut, ‘astonishing view’, dilengkapi sarana rekreasi lengkap mulai dari Camping Ground, Hotel, Restaurant, Cycling & Jogging track, Fishing spot hingga Teater, membuat kawasan ini menjadi salah satu ikon kawasan Wisata di Amerika Serikat.

Ketika tinggal di Portland, Oregon, Amerika Serikat, setiap akhir pekan, selalu saya mempersiapkan daftar acara untuk menghabiskan libur. Selain bertemu teman-teman atau sekedar ngumpul di bar, saya selalu mengunjungi ‘spot area’ yang berhubungan dengan alam.

Melihat sebuah brosur ketika singgah di Gas Station mengenai California, saya membaca sebuah kawasan Hutan lindung yang terlihat indah dan luas disana; Yosemite National Park. setelah membaca brosur, mendalami, dan riset melalui internet, akhirnya saya putuskan bahwa inilah destinasi selanjutnya bagi saya untuk berpetualang.

Tidak lama, beberapa hari kemudian saya kontak beberapa teman untuk menemani saya dalam perjalanan ke kawasan itu. Berhubung jadwal pekerjaan yang padat, akhirnya saya mendapatkan satu orang partner untuk menemani saya kesana.

Perjalanan yang ditempuh dari tempat saya tinggal (Portland, Oregon) berjarak hampir 750 miles, dengan waktu tempuh sekitar 12 hingga 14 jam perjalanan dengan berkendara. Bersama teman, kami memutuskan untuk berkemah di kawasan tersebut. Selain bisa menikmati langsung suasana alam disana, kami memiliki hobi yang sama: berkemah.

Bagi saya, jalan paling menyenangkan adalah menjadi ‘backpacker’, bukan menjadi turis. Menjadi backpacker, saya seperti bisa merasakan petualangan yang sebenarnya, dari menginap di motel murah, bisa menikmati masakan lokal, dan bisa mengunjungi ‘kawasan tikus’ yang turis jarang datangi pada umumnya.

Perjalanan Dimulai

Saya sepakat untuk berpetualang bersama rekan kerja sekaligus sahabat saya yang berasal dari Filipina. Kami berangkat dari Portland sekitar pukul 6 pagi. Ketika itu cuaca sedang bersalju, dan udara dingin pun langsung menusuk ketika kami berada diluar rumah. sedikit kekhawatiran muncul muncul ketika udara dingin pun akan melanda tempat tujuan yang akan kami datangi, Yosemite National Park. Tapi tak apalah saya pikir, kalau udara terlalu dingin diluar nanti, kami akan memutuskan untuk tinggal di San Francisco saja.
Berhubung rute perjalanan yang cukup lumayan jauh, kami melakukan jadwal driving bergantian, dan beristirahat di rest area sepanjang Highway. ketika pulang, kami bermalam ditengah perjalanan. Bermalam didalam mobil ditengah Rest Area dan berada ditengah cuaca bersalju, ternyata bukan hal yang mudah. Dalam waktu 1 jam, terasa udara dingin menusuk kedalam kabin mobil ketika saya tidur. Tidak jarang saya harus menyalakan mesin mobil dan ‘heater’, menjaga agar kami tidak kedinginan. Menggunakan selimut tebal, jaket ‘winter’ dan ‘beannie’ (penutup kepala), ternyata tidak cukup menahan dinginnya udara musim dingin di California.

Hati saya sedikit lega setelah perjalanan sekian lama, dan melihat sign “Welcome to California”, artinya kami sudah hampir seperempat perjalanan lagi untuk tiba disana. Setelah melewati rute Highway yang cukup panjang, akhirnya kami tiba di Sacramento, Ibu Kota California.

yosemite-direction
Di area inilah terdapat pintu keluar menuju area Yosemite National Park.

Tiba Di Sacramento, kami pun beristirahat sejenak dan menikmati makan siang kami di restoran fast food terdekat. Setelah selesai, segera kami bergerak menuju kota kecil bernama Morada. Dari sana, kami menuju jalan yang menghubungkan kota tersebut dengan Yosemite National Park.

Petualangan Sesungguhnya Baru Dimulai.

Setelah melalui perjalanan beberapa puluh kilometer, dan melewati kota kecil bernama Groveland, pemandangan selama perjalanan mulai berubah, dimana jalan berliku dan mulai dipenuhi Hutan Pinus disekelilingnya. Jalan terjal dan menanjak mulai dirasa, dan suasana hutan pinus pun mulai terasa kental.

yosemite-road1

Sekilas, pemandangan sepanjang perjalanan di kawasan ini tampak menyeramkan. Jarang saya melihat mobil lalu-lalang. Sesekali saya melihat kawanan rusa melintas, dan burung elang yang terbang.

Sebagai gambaran lengkap, bila anda pernah melihat salah satu iklan rokok buatan Amerika “Marlboro”, dimana ada adegan seorang koboy menunggangi kuda di tengah hutan pinus sambil menikmati kopi yang dituangkan ke gelas aluminium dan dimasak dengan kayu bakar; kira-kira demikianlah gambarannya. Dan terus terang, sejak saya menyaksikan iklan tersebut saat duduk di bangku SMP, saya sangat terinspirasi untuk mengunjungi kawasan yang ada di iklan tersebut.

Saat yang dinanti tiba, saat jalan mulai melebar dan mulai tampak sedikit keramaian. Pos pembayaran tiket pun nampak. Suasana disana nampak asri dan sejuk.

Tampak Pos tiket yang berbentuk kabin dan terbuat dari kayu pun menambah suasana menjadi lebih alami. Melihat plakat kayu yang berisi keterangan harga tiket, kami tahu akhirnya bahwa untuk masuk ke kawasan tersebut dihitung berdasarkan individu. Waktu itu, kami membayar 10 USD per orang. Jumlah yang dirasa relatifcukup terjangkau bagi kami ketika itu.

entrance-to-yosemite-national-park-may12
Ketika tiba di pos pembayaran, petugas biasanya menanyakan jumlah penumpang dalam kendaraan dan tujuan berkunjung; apakah ingin menginap atau sekedar wisata harian.

Setelah melewati Pos pembayaran, kami harus menempuh sedikit lagi perjalanan menuju area pusat wisata. Di area pusat wisata tidak banyak terdapat hiburan yang saya pikir bakalan mirip seperti ‘Disneyland’ atau ‘Dufan’ di Indonesia. Disana hanya terdapat satu hotel dan restaurant, yang kebetulan menjadi salah satu ikon kawasan tersebut.Tidak melewatkan kesempatan, kami sejenak memarkirkan mobil dan mengunjungi Hotel di kawasan tersebut. Tidak lupa kami bisa meminta sedikit peta kawasan tersebut kepada petugas.

400px-map-usa-yosemite00
Peta area Taman Nasional Yosemite secara keseluruhan. (Foto: Wikitravel)

Information Center dan Museum.

Untuk melengkapi sarana informasi kami mengenai kawasan ini, kami memutuskan untuk mengunjungi Information Area, dimana kami mendapati ‘Theater’ dan toko cinderamata serta berbagai brosur mengenai informasinserta event di kawasana tersebut, dan bisa didapat secara gratis. Tidak lupa Information Center juga berfungsi sebagai Museum kecil yang menceritakan sejarah tentang kawasan ini.

Museum di area ini tergolong lengkap, bersih dan modern. Melalui informasi yang tersedia, kita bisa mengetahui sekilas tentang sejarah kawasan ini. Mulai dari populasi dan jenis binatang, tumbuhan, hingga sejarah pembangunan serta insiden yang pernah terjadi.

6597016-yosemite_visitors_center_museum_yosemite_national_park
Sejarah dibukanya kawasan Hutan Lindung Nasional Yosemite. Terlihat display pakaian tradisional para pekerja serta penduduk sekitar sejak awal dibukanya kawasan ini.

The Hotel.

Hotel ini dinamakan “Ahwahnee” dalam bahasa Indian Kuno. Bangunan Hotel terdiri dari batu alam yang disusun agak berantakan, menambah kesan bangunan menjadi lebih alami. Bangunan nampak menyatu dengan alam, ditambah perpaduan kayu pinus sebagai rangka atap yang tampak menonjol keluar, tampak elegan dan alami.

Sebelum pintu masuk lobi hotel, kami melewati plakatyang memberikan keterangan mengenai sejarah berdirinya hotel ini. Dibangun pada tahun 1927, hotel ini termasuk salah satu cagar bangunan yang dilindungi oleh pemerintah Amerika Serikat.

historic-plaque-near-the-bus-stop-at-the-ahwahnee-hotel-s
Plakat kecil yang menceritakan sejarah berdirinya hotel. Plakat ini terletak diluar area bangunan hotel.

Berada didalam bangunan, suasana didalam hotel begitu hangat, dan kaya akan ornamen sejarah kuno Indian Amerika. Maklum, dulunya kawasan ini dihuni oleh para suku Indian, sehingga aroma Indian kental dalam hotel ini. Tidak lupa, ditengah lobby terdapat sebuah tungku perapian yang ukurannya lumayan cukup besar, cukup untuk membuat hangat seluruh ruangan lobi hotel.

DSC00816.JPG
Lobby utama Hotel. Kaya akan ornamen Indian Kuno serta sejarah Amerika.

Setelah beristirahat dan berkeliling sebentar di sekitar hotel , akhirnya kami melanjutkan perjalanan kami ke kawasan Hutan Pinus yang terkenal di Yosemite National Park; dan tebing tingggi yang terkenal dengan sebutan “El Capitan” di kawasan tersebut. Tebing ini menjadi salah satu ikon Yosemite National Park.

Hutan Pinus Yosemite

Perjalanan cukup memakan waktu yang lumayan lama menuju satu area ke area lain di kawasan ini, dikarenakan luasnya lahan yang berada diluar perkiraan saya. Saat tiba di area masuk hutan pinus, disana terdapat kawasan parkir yang luas dan nyaman serta asri. Di area parkir terdapat “Rest Area” yang disediakan bagi para pengunjung. Area mulai ramai dikunjungi banyak penduduk ketika itu, menandakan bahwa inilah area favorit Yosemite National Park.

dsc00746
Area parkir di Kawasan Hutan Yosemite National Park.

Jalan setapak, semak belukar dan hutan pinus dikelilingi oleh sungai kecil disekitarnya, ditambah kicauan burung, menambah suasana hutan pinus menjadi lebih menyejukkan. Ketika itu, kebetulan sedang musim dingin, dimana kabut tipis menyelimuti area hutan, pemandangan yang sungguh fantastis!

Selidik punya selidik, di kawasan ini sering pula digelar betbagai acara dan festival yang berhubungan dengam seni dan Olahraga. Yang paling sering saya dengar adalah event balap sepeda yang melewati rute Yosemite National Valley Road. Tampak juga kadang-kadang event pegelaran seni lokal dari beberapa komunitas setempat atau outer state.

Selama berpetualang, saya jarang menemukan atmosfir yang membuat saya merinding seperti ini. Sangat beruntung sejak kecil saya sangat mencintai hutan dan area sejenisnya, dan kebetulan saya tumbuh besar di daerah pegunungan di Jawa Barat, sehingga saya terbiasa dengan itu.

Sepanjang jalan setapak didalam hutan, banyak saya temui pohon pinus raksasa yang diperkirakan berusia ratusan tahun. Saking besarnya, pohon in bisa berdiameter 10 hingga 17 orang dewasa.

yosemite_national_park_attr_10
Pohon Pinus raksasa yang terdapat di kawasan hutan Yosemite National Park.

Air Terjun.

Sedikit berjalan lebih jauh kedalam, saya melihat sebuah tanda berwarna coklat; itu tandanya bahwa sign tersebut menunjukkan adanya sebuah titik wisata alam. Papan coklat itu bertuliskan “Bridalveil Fall”. Ya, itulah salah satu titik yang menjadi daya tarik di kawasan hutan Yosemite: Air terjun Bridalveil.

dsc00747
Tanda berwarna coklat menandakan adanya objek wisata. “1000 feet” menunjukkan ketinggian air terjun Bridalveil di Kawasan Yosemite National Park dari atas permukaan laut.

Menuju ke lokasi air terjun jarus ditempuh lumayan panjang. Dan beberapa puluh meter kemudian, jalan mulai menanjak dan mengecil. Dipenuhi kerikil-kerikil kecil dan sedikit lembab, menunjukkan bahwa tidak jauh dari lokasi tersebut terdapat sumber mata air, atau sungai. Setelah berjalan lebih ke atas, sayup-sayup terdengar suara gemuruh. Melewati sedikit hamparan semak belukar, akhirnya saya tiba di titik air terjun. Berada pada ketinggian yang lumayan tinggi (1000 feet), nampak pemandangan air terjun yang menjulang, dan disertai hamparan air yang jernih. Pemandangan air terjun kali ini agak berbeda dari biasanya, mungkin dikarenakan tingginya puncak air terjun, sehingga ujungnya tampak mengecil dan hampir tak dapat dilihat oleh kasat mata.

Sedikit penasaran, saya mencoba meneguk sedikit air tersebut, dan luar biasa, rasanya seperti air mineral yang biasa saya konsumsi di Indonesia.

dsc00754
“Bridalveil Fall”,Yosemite National Park.

“El Capitan”.

Setelah cukup lama berkeliling di dalam kawasan hutan pinus, akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi objek wisata lain di kawasan tersebut: El Capitan.

“El Capitan” merupakan sebutan bagi sebuah tebing granit putih vertikal nan curam, berketinggian hampir 3000 kaki, menjulang tinggi bagaikan menusuk langit dan berada di bagian utara kawasan hutan. Sebutan ini diberikan oleh sang penemu Juan Rodriquez Cabrillo, seorang petualang asal eropa (Spanyol) yang pertama kali menemukan tebing ini. Sebagai gambaran, ketinggian puncak El Capitan hampir 4 kali ketinggian Menara Eiffel di Paris.

el_capitan_eiffel_bbc
Perbandingan ketinggian “El Capitan” dengan Eiffel Tower di Paris. (Foto: SBS.com.au)

El Capitan sering dijadikan objek favorit bagi penggemar olahraga panjat tebing. Banyak pula yang meregang nyawa di lokasi ini, karena kedingingan atau jatuh. Tapi, cerita menakutkan tersebut tidak menyurutkan para penggemar olahraga tersebut untuk berlomba menaklukan “El Capitan”. Alhasil, titik ini menjadi tersohor di seluruh pelosok Amerika, karena cerita dan keunikannya.

dsc00796
Berlatar belakang “El Capitan”

Luasnya kawasan Hutan Nasional Yosemite, membuat pemerintah lokal harus memberi nama beberapa titik di kawasan tersebut, agar mudah diingat oleh para pengunjung. Kawasan ini dalam ketersediaan fasilitas sarana rekreasi alam, cukup terbilang lengkap. Dari fasilitas Hotel, Camping, Jogging, Hiking walk hingga Shuttle Bus serta kawasan memancing terdapat disini. Tidak heran bila kawasan ini menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan lokal, khususnya bagi para pelancong yang tinggal di California, Amerika Serikat.

bike-path-map
Jalur sepeda yang tersedia, ditambah trak yang unik, membuat kawasan in menjadi salah satu favorit para penggemar olahraga sepeda, baik amatir maupun profesional.

The Camping Ground.

Tak terasa, waktu malam hampir tiba, saatnya kami untuk segera mempersiapkan peralatan bermalam kami di kawasan ini. Karena memang awalnya kami sudah berencana untuk bermalam dan mendirikan tenda, maka kami pun segera meluncur ke kawasan perkemahan di Yosemite National Park. Lokasi perkemahan di Yosemite National Park sebetulnya hampir tersebar diseluruh kawasan ini, tetapi kawasan yang paling sering orang kunjungi untuk berkemah adalah ‘Wawona’, sebuah area perkemahan yang terletak di bagian selatan kawasan hutan lindung Yosemite.

Di kawasan ini banyak dijumpai banyak perkemahan serta hamparan tanah datar dan lapang, cocok untuk mendirikan tenda. Tidak menunggu waktu lama, sebelum gelap, kami pun segera mendirikan tenda dan beristirahat untuk segera melanjutkan perjalanan pulang keesokan harinya.5654667_orig

Sebelum mengunjungi kawasan perkemahan ini, kami memang sempat diberi informasi mengenai adanya komunitas kawanan beruang. Bila salah waktu dan nasib, bisa-bisa anda bermasalah dan harus berurusan dengan induk beruang yang ganas. Maka dari itu, kami mengikuti petunjuk Rangers Patrol (Polisi Hutan, red) tentang lokasi yang dirasa aman dari kedatangan kelompok beruang madu ini.

bearincampsite-lg
Tidak jarang dijumpai anak beruang yang mengendus bau makanan dan mendatangi lokasi perkemahan di kawasan ini.

Suasana malam sungguh menusuk dan hening. Sesekali kami mendengar lolongan serigala dari kejauhan. Tidak ingin melewatkan kesempatan, sejenak saya beranikan diri untuk menyalakan api unggun sambil menikmati secangkir kopi hangat.

Ketika itu, terus terang saya agak sedikt khawatir dan paranoid tatkala mendengar sesuatu dari balik semak belukar. Yang saya khawarirkan adalah kemunculan Beruang atau serigala yang siap menerkam saya. Maka dari itu selalu saya bawa Pisau belati kesayangan sejak awal. Dan syukurlah, hal yang saya khawatirkan tidak pernah terjadi.

Melihat pemandangan ketika malam, tidka banyak yang dilihat ketika itu. Hanya, bila saya melihat ke langit, tampak taburan bintang yang gemerlap menerangi gelapnya kawasan hutan ini.

Ketika itu, saya sedikit berimajinasi tentang kehidupan zaman dulu kala, ketika orang-orang Indian dan para penduduk lokal harus bertahan hidup dan berjuang melawan dinginnya alam serta ganasnya Beruang dan serigala yang hidup di kawasan ini. Sungguh perjuangan yang tidak mudah saya pikir.

Setelah cukup beristirahat, tiba waktunya bagi kami untuk berkemas dan kembali ke tempat tinggal kami di Portland. Selama perjalanan pulang, memori saya akan tempat ini terus menempel, sambil sesekali berpikir tentang rencana perjalanan saya selanjutnya: San Francisco dan Los Angeles!

Sungguh pengalaman yang unik dan bermanfaat untuk merenungi betapa Agungnya Karunia Yang Maha Kuasa. Bila anda berkunjung ke California, kawasan ini salah satu tempat yang wajib anda kunjungi bagi para petualang.

Selamat mencoba dan keep exploring.

Salam Travellers!