Pesona “Jalan Alor”, Kuala Lumpur, Malaysia.

Sungguh salah, bila selama ini saya beranggapan bahwa Malaysia, khususnya Kuala Lumpur adalah sama dengan kota metropolitan seperti kota lainnya di dunia. Hingga akhirnya saya menemukan sebuah lokasi unik yang menjadi tempat favorit saya setiap kali singgah ke Malaysia.

Ketika itu, saya berkunjung ke Malaysia guna menghadiri pernikahan adik ipar saya di Johor Baru, Malaysia. Saya pun berangkat ke Malaysia melalui Singapura dengan menggunakan transportasi Bis. Pengalaman tersebut cukup dirasa unik, karena baru kali ini saya melancong dari Singapura dan Malaysia dengan menggunakan sarana transportasi darat.

Berangkat dari Batam, Kepulauan Riau, Indoensia akhirnya saya bisa sampai ke Singapura dengan mnggunakan Kapal Feri. Dengan ongkos 80.000 IDR per orang, saya tiba di pelabuhan Singapura bersama Istri tercinta. Satu hari menginap di Singapura, akhirnya kami berangkat ke Terminal Bus yang terletak di ‘Queen Street’, yang terletak di distrik Bugis.

Tarif Bus dari Singapore ke Johor Baru bermacam-macam, dimana besarnya tarif bergantung kepada perusahaan bus yang mengelola. Tapi, pada umumnya tarif yang dikenakan berkisar antara 1.30 SGD hingga 4.00 SGD. Fasilitas yang ditawarkan pun beragam, dari Executive class hingga Economic Class.

Perjalanan ditempuh kurang lebih 1.5 jam. Jarak antara Singapore dan Johor Baru memang tergolong dekat, sehingga waktu tempuh pun tidak terasa lama, apalagi sambil tertidur dalam perjalanan.
Setelah melewati perbatasan dan cek imigrasi, kami tiba di terminal Johor Baru untuk transit dan menurunkan penumpang. Setelah itu Bus segera meluncur ke Kuala Lumpur.

Kuala Lumpur

Dengan guyuran hujan, kami tiba di Kuala Lumpur. Kota ini nampak tidak jauh berbeda dengan Jakarta; antrian mobil dan kerumunan manusia nampak. Hanya kota ini lalu lintasnya sedikit lebih teratur dari Jakarta. Dari terminal Bis Kuala Lumpur, kami segera meluncur ke hotel di kawasan Bukit Bintang dengan menggunakan Taxi. Ketika itu, Hotel yang kami pilih adalah ‘Swiss Garden’ Hotel yang berada di kawasan Bukit Bintang.

Kota Kuala Lumpur, yang hampir mirip dengan Jakarta, dan dilengkapi banyak pertokoan berkelas dunia didalamnya, ternyata menyimpan juga berbagai spot area yang unik untuk dikunjungi.

Begitu tiba di Hotel yang berlokasi di Jalan Bukit Bintang, saya bertanya kepada resepsionis mengenai spot area yang recommended untuk dikunjungi, salah satunya adalah Jalan Alor. Setelah sedikit mengetahui informasi.emngrnai kawasan itu, kami pun merencanakan untuk mengunjungi kawasan yang latanya menjadi salah satu ikon wisata kuliner di KL.

‘Jalan Alor’, dari namanya nampak seperti nama jalan biasa pada umumnya. Dalam bayangan saya, tersirat bayangan jalan yang sepi, jalan yang sempit dan agak tidak terurus. Namun ketika tiba disana, sungguh gambaran yang jauh berbeda dari yang saya bayangkan sebelumnya. Lampu hias bergelantungan, musik lokal dan aroma khas makanan bertebaran dimana-mana. Lokasi ini tidak jauh dari tempat saya menginap ketika itu, hanya berjalan sekitar 5 menit dari pusat kota. Kawasan ini mirip seperti daerah pasar malam di daerah Cibadak (Bandung), atau Nagoya (Batam), hanya jauh lebih ramai dan modern dan dipenuhi oleh para turis asing mancanegara, atau kaum ‘ekspatriat’.

Suasana bersahabat, aroma udara yang kaya aroma serta harga makanan terjangkau, membuat kawasan ini ramai dikunjungi banyak orang.

Menginjakkan kaki di kawasan ini, saya menjumpai pemandangan yang unik; dimana para ekspatriat’ (orang asing yang bekerja di dalam negeri,-red) banyak berbaur dengan para lokal mayoritas dan menikmati suasana pasar malam yang ramai dan padat. para ‘bule’/ekspat tersebut tanpa sungkan dan risih duduk menikmati hidangan di pinggir jalan, sambil menikmati Bir dan alkohol tanpa merasa risih atau takut. Sungguh pemandangan yang jarang saya jumpai; terutama berada di negara yang mayoritasnya beragama Islam, yang biasanya penuh dengan aturan baku yang berkaitan dengan agama. Jadi, bisa dipastikan bahwa kawasan ini boleh dibilang aman.

bermacam hidangan tersedia di kawasan ini. Salah satu favorit saya adalah menu ini. Sajian seafood dan makanan khas laut yang dimasak secara ‘barbeque’ atau dicelupkan kedalam air panas selama beberapa menit.

Disana, setiap hidangan nampak memikat ,dari mulai masakan khas Tiongkok, India, Es krim Turki, Melayu hingga Thailand dapat anda jumpai. Masakan Seafood nan segar umumnya mudah ditemukan disini. Harga nya pun rata-rata masih bisa dibilang terjangkau.

Meskipun ada tempat kuliner lain yang boleh dibilang rekomended untuk dikunjungi, kawasan ini boleh dibilang unik dari segi atmosfir dan merupakan sedikit cerminan dari ciri khas budaya lokal. Atraksi seni, musik kadang memenuhi area ini dan menambah semarak malamnya Kawasan Bukit Bintang.
Tidak heran bila kawasan ini ramai dikunjungi. Saking padatnya, jalan ini hanya bisa dilalui oleh satu mobil, dan itu pun harus berjalan dengan sangat pelan, mengingat banyaknya manusia yang memenuhi kawasan ini, ditambah, pinggiran jalan dan trotoar umumnya sudah dipenuhi oleh meja dan kursi. Ada pula para musisi jalanan yang turut meramaikan kawasan tersebut, sehingga atmosfir di kawasan ini menjadi lebih ‘hidup’.

Setelah berkeliling di area tersebut, kami akhirnya memutuskan untuk singgah di restoran yang menyajikan masakan Kanton, dengan menu Ikan kerapu yang dimasak ‘Steam’ dengan saus khas canton, ditemani sayur kailan dan campuran bawang putih, dan hasilnya tentu saja memuaskan. Sengaja kami tidak memenuhi langsung isi perut kami, karena masih banyak hidangan lain yang akan kami cicipi.” Mumpung disini”, begitu pikir saya. Setiap restoran dikawasan itu menyajikan keunikan dan ciri khas masakannya masing-masing dengan harga yang beragam, jadi anda harus teliti dan memilih sebelumnya.

Kawasan ini buka hingga pukul 2 pagi pada umumnya, terlebih pada akhir pekan, bisa dipastikan area ini buka hampir 24 jam.

Serunya, kami menjumpai seorang penjual Duren yang ternyata bersuku Batak, namun sayang kami lupa nama marganya. Saking lamanya tinggal di Malaysia, Amang Boru (Sebutan ‘Paman’ dalam tradisi Batak, -Red.) ini sangat fasih bercakap melayu, hingga akhirnya ia menanyakan asal kami beserta istri dan mertua, dan ia senang bukan kepalang ketika mengetahui bahwa keluarga istri saya berasal dari suku sama; Batak. Alhasil, kami terlibat pembicaraan intens dan menghabiskan banyak durian ketika itu. Mantap.

Jalan Alor, bagi saya nampak seperti Pasar Malam yang berada di tengah kota, cocok bagi anda yang ingin merasakan Jajanan ‘Street Food’ lokal.

Sungguh pengalaman yang sulit dilupakan, dan dipastikan anda wajib mengunjungi kawasan ini bila berkunjung ke Kuala Lumpur, Malaysia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s