Mendapat Hadiah ‘Jin Pendamping’ (bagian 2)

(…) Singkat kata, pada suatu waktu di pertengahan tahun 2007, sampailah kami pada kegiatan mengunjungi salah satu makam leluhur di daerah Sumedang. kami datang dengan menggunakan kendaraan pribadi secara rombongan dengan jumlah 4 orang, termasuk diantaranya spyder dan salah satu sahabat dekat enzo, sebut saja namanya scudderia.

Lokasi yang kami tuju berada di daerah pegunungan kota Sumedang, di desa Dayeuh Luhur kecamatan Ganeas. Rute perjalanan yang kami tempuh lumayan terbilang sulit bagi pengendara yang belum terbiasa dengan rute menuju makam tersebut, terlebih dengan kondisi lebar jalan yang makin menyempit ketika menuju ke puncak bukit. Salah satu hal yang lumayan membuat jantung kami berdetak adalah ketika kami harus melalui sebuah tanjakan menukik yang diikuti dengan belokan yang lumayan tajam, dimana yang kami takutkan adalah datangnya kendaraan lain dari arah yang berlawanan, sehingga kami harus membunyikan klakson beberapa kali terlebih dahulu sebelum melewati tanjakan tersebut guna memberi tanda kepada kendaraan yang datang dari arah berlawanan agar berhenti. Untung saja enzo telah sering datang mengunjungi tempat itu, sehingga dia telah hapal medan yang akan ditempuh.

Ada informasi unik yang kami dapatkan ketika kami akan sampai ke puncak pegunungan tempat makam leluhur kami, yaitu bahwa enzo memberi tahu bahwa setiap orang yang akan mengunjungi makam tersebut dilarang keras untuk membawa kain batik, baik itu hanya secarik kain atau dompet bermotif batik.

Ketika ditanya apa sebabnya, enzo berkata bahwa leluhur di makam tersebut tidak menyukai kain batik, dan jangan coba-coba melawan aturannya, karena pada suatu waktu ada seorang pengunjung pria yang lupa membawa dompet bermotif batik ke makam tersebut, tiba-tiba datang petir secara bergelombang dan awan mendadak menjadi mendung seperti hendak menyambar pria tersebut, hingga akhirnya ia kabur tunggang langgang meninggalkan area makam.

Menurut hemat saya, alasan leluhur gaib tersebut tidak menyukai kain batik karena ada kaitannya dengan sejarah masa lalu sang leluhur, dan tak ada alasan bagi saya untuk mencoba melawan aturan tersebut, terlebih karena saya ingin pulang dengan selamat.

Sebenarnya, kedatangan saya ke lokasi makam ini adalah yang kesekian kalinya, namun entah kenapa kunjungan kami saat itu sangat spesial, karena saya tidak akan pernah menduga akan mendapat ‘hadiah’ dari leluhur saya pada saat itu.

Perlahan namun pasti, kami mulai memasuki area makam yang sangat rimbun dan dipenuhi banyak pohon-pohon besar mengelilingi area makam tersebut. Suasana makam sangat hening dan sunyi, hanya dipenuhi oleh suara burung dan serangga saling bersahutan. Setiba disana, kami beristirahat sejenak dan melaksanakan shalat dzuhur bersama di mesjid terdekat.

Sungguh, sangat terasa aroma mistis di area itu, meskipun saya bukan orang yang percaya akan hal seperti itu, tetapi entah mengapa serasa ada sosok yang terus mengamati saya entah dari mana. di dekat area makam terdapat perkampungan kecil dengan penduduk yang tergolong lumayan modern, karena saya perhatikan disetiap rumah penduduknya sudah terdapat banyak antene televisi dan ada tempat penjualan pulsa, bahkan terdapat pangkalan ojeg didapan area makam. ini menunjukan bahwa desa tersebut sudah lumayan maju.

Setelah melakukan Shalat Dzuhur berjama’ah, kami segera bersiap menuju area makam di puncak bukit. Sebagai gambaran, area makam lokasinya seperti di Taman Hutan Raya Bogor, namun versi mini nya, dimana kami harus naik ke atas lagi untuk mencapai makam leluhur. di dalam area makam terdapat dua lokasi makam penting, satu adalah makam pangeran penguasa Sumedang pada zaman dahulu, dan satunya lagi konon adalah tempat ’tilem’ nya sang patih atau panglima perang. Tentu saja saya bermaksud ingin mengunjungi kedua makam tersebut, bukan karena ingin memohon sesuatu, tetapi sekedar hanya ingin tahu bagaimana bentuk dari makam tersebut, karena bentuknya yang aneh, terlebih tempat ’tilem’ sang patih, yang konon banyak orang rela tidur di area makam selama berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, hanya untuk memperoleh ilham atau ada yang melakukan proses mendalami ilmu bela diri tenaga dalam, karena diyakini bahwa sang pangeran dan patihnya adalah salah satu orang terkuat pada masa itu, dan kekuatannya terkenal sampai ke seluruh Nusantara.

Dalam melakukan ziarah, seperti halnya mengunjungi makam leluhur saya di Ciamis, Banjar, seperti biasa saya membacakan beberapa ayat suci Al Quran di depan makam sang pangeran. Alasan saya membacakan ayat suci Al Quran tidak lebih hanyalah ‘tadarrus’; membaca ayat suci sebagai amal ibadah saya pribadi terhadap Allah SWT, dan itu hanya berlangsung beberapa menit. Pada waktu saya membaca ayat kursi, saya memperhatikan enzo duduk bersila terdiam sambil memejamkan mata. Seperti biasa dia melakukan hal itu bilamana sedang berkomunikasi dengan sang pangeran, dan saya pun sudah mengetahuinya sejak awal.

Setelah enzo membuka mata, barulah ia mengajak kami untuk segera pergi, dan kami pun segera pergi meninggalkan makam tersebut untuk menuju makam patih di atas bukit yang lebih tinggi. Sungguh, barulah saya sadar bahwa selama mengunjungi makam ini, kami telah berada di puncak gunung yang tinggi hingga kami bisa melihat kota Cirebon sampai ke laut ketika saya sampai ke tepi pegunungan di area makam tersebut, Subhanallah.

Ketika sampai di tempat ’tilem’ sang patih, kami pun sama melakukan tadarrus Al-Quran untuk beberapa menit. tidak ada hal spesial yang saya rasakan ketika itu, namun saya sempat melihat enzo duduk bersila di sebelah saya sambil mengangguk-anggukan kepala seperti dia sedang berkomunikasi dengan seseorang sambil sedikit tersenyum. Saya sedikit heran, mengapa dia tersenyum? namun saya biarkan saja karena itu bukan urusan saya, urusan saya disini hanyalah berjalan-jalan dan berwisata kuliner, karena seperti diketahui, bahwa sumedang terkenal akan tahu dan lontongnya yang sangat lezat, saya mampu memakan tahu nya saja sebanyak 20 buah dalam sekali makan karena saking lezatnya.

Setelah selesai, sejenak kami berpandangan dan enzo memberi kode bahwa kita telah selesai dan segera pulang. Dekat di area makam, ada sebuah mata air yang konon memiliki khasiat, salah satunya adalah membersihkan jiwa dari roh-roh jahat bila kita mandi di mata air tersebut. Karena terbatasnya waktu, saya tidak pernah mandi di mata air tersebut, terlebih saya lumayan takut terhadap ular, karena saya khawatir akan adanya ular di area tersebut.

Singkat kata, ketika dalam perjalanan pulang, dalam kendaraan enzo memberi tahu kepada kami bahwa hari ini ada seseorang diantara yang diberi hadiah oleh sang pangeran, namun dia tidak memberi tahu secara rinci siapa, apa dan bagaimana orang itu bisa diberi hadiah oleh sang pangeran.

Baru setelah tiba di rumah enzo, dia membahas semua fenomena yang dia amati terhadap kami, dan dia memberitahu bahwa orang yang diberi hadiah khusus oleh sang pangeran adalah saya. Menurutnya, dia melihat ada sebuah asap putih masuk ke punggung saya melalui sumsum tulang belakang ketika kami sedang melakukan tadarrus di tempat ’tilem’ sang patih. Ia menyebutkan alasan mengapa saya yang dipilih untuk menerima hadiah tersebut, dia hanya menyebutkan bahwa saya sering dikecewakan dan dikhianati oleh banyak orang.

Malahan, ia mengakui pada akhirnya bahwa saya telah diangkat sebagai anak angkat sang leluhur, entah itu siapa, ia tidak menjelaskan. Sebagai anak muda yang kurang percaya akan hal mistis, terlebih saya tidak memiliki latar belakang spiritual ataupun tenaga dalam apapun, tentu saja saya hanya tersenyum dan bersyukur dalam hati apabila ‘hadiah’ itu tidak menimbulkan hal negatif terhadap saya pribadi. Enzo mengingatkan saya agar terus mendirikan Shalat dan berdzikir, itu saja, tidak ada ritual apapun, tidak ada sesaji apapun dalam mengamalkan atau mengaplikasikan hadiah yang saya terima.

Waktu demi waktu berjalan setelah kejadian tersebut, dan saya tidak merasakan hal aneh apapun pada diri saya, tetapi banyak orang dengan kekuatan khusus melihat diri saya seakan diliputi oleh sebuah kekuatan berdaya magis tinggi, entah apa itu, namun saya kurang menghiraukan apa yang orang orang tersebut katakan, bukannya saya tidak percaya, namun saya tidak mau dipusingkan oleh hal-hal yang tidak nyata, karena saya tidak merasakan perubahan apapun dalam diri saya. Biarlah yang berlalu tetap berlalu dan saya harus terus melangkah. Tetapi memang patut diakui, banyak kejadian aneh yang saya alami yang kadang tidak masuk logika, termasuk ketika saya sedang bekerja di Amerika, namun sekali lagi saya tidak berpikir bahwa itu ada kaitannya dengan hadiah’ tersebut.

Intinya, sebagai umat manusia, kita hanya bisa berdoa dan memohon kepada Allah SWT, bahwa semua yang terjadi itu adalah kehendak Nya, meskipun godaan kadang datang, namun ingatlah bahwa orang-orang beriman akan selalu diuji, dan pada akhirnya semua itu tergantung kepada keimanan kita bagaimana kita menyikapinya. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia Nya kepada kita semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s